Langsung ke konten utama

Akhirnya Persib Mampu Menyamakan Gol di Markas Dewa United

 

MENJUAL HARAPAN - Persib Bandung pekan ke-28 ini tandang ke markas Dewa United. Pada laga tandang ini, Persib Bandung kebobolan lebih dahulu di menit ke-24.

Gol pembuka tuan rumah Dewa United dicetak oleh Alex Martins Ferreira.

Tuan rumah Dewa United unggul sementara 1-0 ini, terus meningkatkan tekanan ke pertahanan Persib Bandung, akan tetapi para pemain Persib Bandung, terus menghadang serangan pemain Dewa United, sehingga kedudukan gol tidak alami perubahan hingga turun minum.

Usai jeda, memasuki babak kedua, tuan ruam yang sudah unggul, tetap berusaha menambah pundi golnya dengan aksi-aksi serangan ke pertahanan Persib Mandung. Pemain Maung Bandung tampak kewalahan menghadang serangkaian serangan dan tekanan para pemain tuan rumah.

Serangan demi serangan pemain tuan rumah, akhirnya membuahkan gol ke-2 pada menit ke-61 lewat tendangan Ricky Kambuaya.

Baca juga: Semen Padang Makin Terperosok di Area Zona Degradasi Usai Kalah dari Persijap

Persib Bandung tertinggal 0-2, dan Dewa United tampak sudah di atas angin. Akan tetapi, pemain Persib Bandung berusaha keluar dari dikte tekanan permainan Dewa United dengan aksi-aksi menyerang dan menekan juga ke pertahanan Dewa United.

Sejalan masih tertinggal, tampak Persib makin mengencangkan tingkat serangannya ke pertahanan taun rumah, dan pada menit ke-77 Thom Haye mengesekusi tendangan penalti ke gawang kiper Dewa United dan berhasil mengecok penjaga gawang.

Persib Bandung dapat bisa bernapas lega usai memperkecil ketertinggalan gol. Dan animo para pemainnya kembali adenalin serangannya, sehingga di menit ke-86 Andrew Jung berhasil membobol gawang kiper tuan rumah Dewa United.

Kedudukan sama 2-2, gejolak permainan tidak kendor dengan tekanan demi tekanan yang dijalankan kedua tim ini. Khususnya Dewa United yang berusaha keras memenangkan pertandingan ini, akan tetapi waktu juga yang mengakhiri pertandingan ini.

Hasil pekan ini Dewa United dan Persib Bandung berbagi poin. Dewa United berada di urutan ke-7 dengan mengantongi 41 poin, dan Persib Bandung masih bercokol di papan atas mimpin klasemen BRI Super League pekan ke-28 dengan memiliki 65 poin. (S_267)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...