Langsung ke konten utama

Malut United Menang di Markas Madura United, Persija Jakarta Ditahan Imbang Borneo FC

MENJUAL HARAPAN - Malut United tandang ke markas Madura United Stadion Gelora madura Ratu Pamelingan, Pamakasan, Selasa malam WIB (3/3/2026).

Malut United taklukkan tuan rumah Madura United dengan skor gol 2-1. Dua gol Malut United dicetak pada menit ke-31 dan ke-58 oleh David da Silva.

Sedangkan, satu gol balasan tuan rumah Madura United terjadi pada babak kedua meit ke-78 lewat tendangan Luiz Marcelo Morais dos Reis.

Baca juga: PSM Makasar Telan Kekalahan Lawan Persita Tangerang

Pertandingan pekan ke-24 BRI Super League musim 2025-2026 ini, Madura United kehilangan poin, dan kini berada di urutan ke-14 dengan mengoleksi 20 poin.

Sedangkan Malut United kembali bertengger di posisi papan atas urutan ke-4 dengan mengoleksi 44 poin klasemen BRI Super League pekan kedua puluh empat.

Duel kedua tim ini cukup alot, walau akhirnya tim tamu Malut United berhasil menaklukkan tuan rumah. Sementara tuan rumah sendiri Madura United dengan ngotot melakukan tekanan ke pertahanan Malut Unted, akhirnya harus menerima kenyataan pahit hanya berhasil mencetak satu gol.

Baca juga: Persebaya Surabaya Akhirnya Mampu Menyamakan Gol Lawan Persib

Adapun pada pertandingan lainnya, Persija jakarta berhadapan dengan Borneo FC di pekan ke-24 BRI Super League.

Persija Jakarta lawan Borneo FC ini berakhir dengan skor gol 2-2.

Dua gol tuan rumah Persija Jakarta terjadi pada menit ke-47 dan ke-75 yang masing-amsing dicetak oleh Gustavo Almeida dan Fabio Calonego. Sedangkan dua gol balasan Borneo FC pada waktu menit ke-62 dan ke-90+4 oleh maisng-masing Juan Vilia dan Ikhsan Zikrak.

Berakhir imbang dan berbagi poin ini, keduanya berada di papan atas, Persija Jakarta urutan ke-2 dengan 51 poin, sementara Borneo FC berada di posisi ke-3 dengan mengoleksi 50 poin klasemen BRI Super League 2025-2026 pekan kedua puluh empat. (S_267)





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...