Langsung ke konten utama

Bayern Munchen Preteli Borussia Monchengladbach


MENJUAL HARAPAN - Terkesan pincang pertandingan antara Bayern Munchen versus Borussia Monchengladbach di pekan ke-25 Bundesliga musim 2025-2026.

Sejak kick off, tuan rumah Bayern Munches terus mendominasi permainannya, yang seakan tanpa perlawanan. Bermain langsung digelar di Stadion Allianz Arena, Sabtu dini hari WIB (7/3/2026).

Baca juga: Napoli Jamu Torino di Pekan ke-28 dan Berakhir 2-1

Babak pertama tuan rumah sudah mengoleksi 2 gol yang dicetak pada menit ke-33 oleh Luis Diaz, dan Komrad Laimer pada menit ke-45+1.

Usai turun minum, memang Monchengladbach berusaha bangkit dengan melakukan pergerakan menyerang ke pertahanan Bayern, namun acapkali buntu dihadang para pemain Bayern Munchen.

Baca juga: Celta Vs Madrid, Madrid Taklukkan Tuan Rumah

Tuan rumah Bayern kembali tambah golnya melalui tendangan penalti Jamal Musiala pada menit ke-57, sehingga kini sudah tiga gol digenggam tuan rumah.

Suhu pertandingan makin terasa panas, Monchengladbach yang sudah tertinggal 0-3 berusaha bangkit dengan semangat melakukan penyerangan ke pertahanan Bayern, akan tetapi sigapnya pemain tuan rumah melakukan serangan balik membuahkan gol keempat pada menit ke-79 yang dicetak oleh Nicolas Jackson.

Akan tetapi, pada detik-detik waktu pertandingan berkahir, gawang kiper Bayern Munchen kebobolan lewat tendangan Wael Mohya pada menit ke-89, sehingga kini kedudukan menjadi 4-1.

Posisi gol Bayern Munchen 4-1 Borussia Monchengladbach tidak terjadi perubahan lagi hingga wasit meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan.

Tiga poin penuh diraih Bayern Munchen membuatnya makin kokoh di puncak klasemen dengan mengoleksi 66 poin, dan meninggalkan jauh tim-tim di urutan lima besar. Sedangkan Borussia Monchengladbach berada di posisi ke-12 dengan 25 poin klasemen Liga Jerman pekan kedua puluh lima. (S_267)




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...