Langsung ke konten utama

Ketika Garuda Mencari Lima Bulunya yang Hilang

MENJUAL HARAPAN - Pagi tanggal 1 Juni datang tanpa suara. Matahari terbit seperti biasa, kendaraan tetap memenuhi jalan raya, dan layar-layar telepon tetap memancarkan berita yang berganti setiap detik. Akan tetapi, nun jauh di atas awan, seekor Garuda, terbang perlahan mengelilingi negeri yang pernah ia jaga dengan bangga.

Garuda itu tampak gelisah. Ketika ia mengepakkan sayapnya, ia menyadari ada sesuatu yang hilang. Lima helai bulu emas yang dahulu berada di dadanya, tak lagi terlihat. Bulu-bulu itu bukan sembarang bulu. Masing-masing merupakan penyangga keseimbangan yang membuatnya mampu terbang tegak di tengah badai zaman.

Hari itu, adalah hari lahir sebuah janji. Bertahun-tahun silam, di tengah pergolakan dan mimpi tentang kemerdekaan, lima bulu emas itu diberikan kepada Garuda sebagai bekal menjaga sebuah negeri bernama Indonesia. Sejak saat itu, negeri tersebut berdiri bukan hanya di atas tanah dan lautan, melainkan juga di atas nilai-nilai yang disepakati bersama.

Garuda mulai mencari bulu pertama. Ia terbang menuju puncak gunung-gunung tempat manusia biasa dahulu menundukkan kepala kepada Sang Pencipta dengan kerendahan hati. Namun yang ia temukan kini adalah menara-menara kesombongan. Banyak orang berbicara atas nama langit, akan tetapi sedikit yang benar-benar menengadah. Bulu pertama ternyata terjebak di antara gema pidato dan pertengkaran yang mengatasnamakan kebenaran.

Garuda, melanjutkan pencarian menuju kota-kota besar. Di sana ia berharap menemukan bulu kedua, bulu yang dahulu memancarkan cahaya kemanusiaan. Akan tetapi, jalan-jalan dipenuhi orang yang saling berlomba tanpa sempat saling melihat. Sebagian menumpuk kekayaan, sebagian lain menumpuk kesabaran. Di sudut-sudut kota, manusia mulai diperlakukan sebagai angka, data, dan statistik. Bulu kedua tampak kusam karena terlalu lama tertutup debu ketidakpedulian.

Perjalanan berikutnya membawanya ke pelabuhan, pasar, dan perbatasan negeri. Di sana ia mencari bulu ketiga. Dahulu bulu itu mengikat ribuan pulau menjadi satu kesadaran. Namun, kini ia mendengar suara-suara yang lebih sibuk mencari perbedaan daripada persamaan. Orang-orang membangun tembok dari identitas, lalu lupa bahwa rumah besar bernama Indonesia memiliki terlalu banyak kamar untuk dihuni oleh satu golongan saja.

Garuda semakin letih. Dari atas langit ia melihat pulau-pulau yang indah, tetapi melihat juga retakan-retakan halus yang mulai muncul di antara sesama anak bangsa. Retakan itu belum cukup besar untuk menghancurkan rumah, namun cukup dalam untuk membuat penghuni rumah saling mencurigai.

Menjelang sore ia tiba di sebuah gedung megah yang disebut Istana Cermin. Di sana para tokoh berkumpul setiap hari. Mereka berbicara tentang rakyat, pembangunan, dan masa depan. Garuda berharap menemukan bulu keempat di tempat itu. Akan tetapi, Garuda justru melihat banyak orang lebih sibuk memandangi bayangan diri mereka sendiri di cermin daripada mendengarkan suara yang datang dari luar gedung.

Bulu keempat ternyata terselip di bawah tumpukan kepentingan. Cahaya hikmahnya masih ada, tetapi redup. Ia kalah terang oleh sorot kamera, survei popularitas, dan hasrat untuk selalu menang. Ruang musyawarah perlahan berubah menjadi arena pertandingan yang tak mengenal jeda.

Malam mulai turun ketika Garuda mencari bulu kelima. Ia terbang rendah melewati kampung-kampung, sawah-sawah, dan kawasan industri. Di sana ia menemukan banyak orang bekerja keras sejak matahari terbit hingga larut malam. Namun hasil yang mereka terima sering kali tidak sebanding dengan tenaga yang mereka keluarkan.

Di sebuah gubuk kecil, seorang petani tua sedang memperbaiki alat kerjanya. Tidak jauh dari sana, seorang anak belajar di bawah lampu yang berkedip-kedip. Di tempat lain, seorang buruh menghitung penghasilannya sambil menghitung harga kebutuhan yang terus naik. Garuda melihat bulu kelima berada di tengah mereka, tetapi terikat oleh rantai panjang bernama ketimpangan.

“Bukankah ini negeri yang menjunjung keadilan?” tanya Garuda kepada angin malam.

Angin tidak menjawab. Ia hanya membawa suara keluhan dari berbagai penjuru. Keluhan tentang kesempatan yang tidak merata, tentang hukum yang kadang tajam ke bawah dan tumpul ke atas, tentang mimpi-mimpi yang harus berjuang lebih keras hanya karena lahir di tempat yang berbeda.

Dengan susah payah Garuda berhasil mengumpulkan kelima bulu itu. Namun ketika hendak memasangnya kembali, ia terkejut. Bulu-bulu tersebut tidak mau menempel. Seolah-olah mereka menolak kembali menjadi bagian dari dirinya.

“Mengapa?” tanya Garuda.

Lima bulu itu menjawab hampir bersamaan. “Kami tidak hilang. Kami hanya ditinggalkan. Kami tidak membutuhkan upacara, spanduk, atau slogan untuk hidup. Kami membutuhkan manusia yang bersedia menjalankan makna kami dalam keseharian.”

Garuda terdiam. Untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa masalah negeri itu bukanlah hilangnya nilai-nilai tersebut. Nilai-nilai itu masih ada, tertulis dalam buku, terpahat dalam lambang negara, dan diucapkan dalam berbagai peringatan. Yang berkurang adalah keberanian untuk menghidupinya ketika kepentingan pribadi mulai menggoda.

Tepat tengah malam, tanggal 1 Juni perlahan berganti. Di bawah langit Indonesia, jutaan orang tertidur setelah memperingati Hari Lahir Pancasila dengan berbagai cara. Namun di antara mereka, masih ada sebagian kecil yang tetap menyalakan cahaya: guru yang mengajar dengan jujur, petani yang bekerja dengan ikhlas, hakim yang menjaga nurani, pemimpin yang mendengar rakyat, dan warga yang menghormati sesamanya.

Garuda kembali mengepakkan sayapnya. Lima bulu emas itu perlahan bersinar dan menempel kembali di dadanya. Ia memahami sesuatu yang sederhana tetapi penting: Pancasila tidak pernah benar-benar lahir pada 1 Juni di masa lalu. Ia harus dilahirkan kembali setiap hari dalam tindakan manusia. Sebab ketika nilai hanya menjadi hafalan, bangsa akan kehilangan arah. Tetapi ketika nilai menjadi perbuatan, Indonesia akan selalu menemukan jalannya pulang. (Silahudin_267)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...