Langsung ke konten utama

Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Dari “Only One Earth” ke Krisis Planetary

Foto hasil tangkapan layar dari rri.co.id

MENJUAL HARAPAN - Tanggal 5 Juni setiap tahun menjadi pengingat keras bahwa bumi bukan sekadar ruang hidup, melainkan rumah satu-satunya yang kita miliki.

Sejak Konferensi Stockholm 1972, PBB menetapkan World Environment Day sebagai momentum global untuk menyatukan suara manusia dalam menjaga lingkungan.

Slogan perdana “Only One Earth” terasa sederhana, tetapi justru itulah inti pesan: kita tidak punya planet cadangan.

Sejarah dan Latar Belakang

Hari Lingkungan Hidup Sedunia lahir dari kegelisahan dunia atas industrialisasi yang merusak ekosistem. Konferensi Stockholm menjadi tonggak sejarah, melahirkan UNEP (United Nations Environment Programme) sebagai motor penggerak.

Sejak 1974, peringatan ini bergulir dengan tema berbeda tiap tahun, menyesuaikan krisis yang dihadapi: polusi plastik, hilangnya biodiversitas, hingga perubahan iklim.

Perkembangan Global

Kini lebih dari 150 negara ikut serta. Dari aksi penanaman pohon hingga kampanye digital, Hari Lingkungan Hidup Sedunia menjadi panggung solidaritas.

Akan tetapi, solidaritas ini sering kali berhenti di level simbolik. Poster, seminar, dan seremoni tidak cukup menghadapi kenyataan bahwa bumi sedang mengalami triple planetary crisis: perubahan iklim, polusi, dan kerusakan biodiversitas.

Konteks Indonesia

Di Indonesia, peringatan ini biasanya diwarnai dengan gerakan penanaman pohon, lomba kebersihan, atau seminar akademik. Tema nasional 2026: “Saatnya Bekerja untuk Iklim” menegaskan urgensi aksi nyata.

Meskipun demikian, tantangan besar tetap ada, yaitu: deforestasi yang masif, sampah plastik yang menumpuk, dan banjir perkotaan yang semakin rutin. Pertanyaannya: apakah peringatan ini mampu menggerakkan kebijakan yang lebih berani?

Tantangan

Tantangannya, acapkali, pertama, seremonial vs substansi – Banyak peringatan berhenti pada seremoni tahunan. Padahal, krisis lingkungan menuntut kebijakan struktural: regulasi ketat, insentif hijau, dan penegakan hukum lingkungan.

Kedua, ketimpangan global – Negara berkembang seperti Indonesia menanggung dampak besar perubahan iklim, sementara negara maju masih dominan dalam emisi karbon.

Ketiga, kesadaran publik – Kampanye masif belum sepenuhnya mengubah perilaku masyarakat. Kesadaran sering muncul hanya saat momentum tahunan, lalu hilang dalam rutinitas.

Dengan demikian, Hari Lingkungan Hidup Sedunia seharusnya menjadi alarm global. Ia bukan sekadar perayaan simbolik, melainkan panggilan darurat. 

Tanpa aksi nyata, slogan “Only One Earth” hanya akan menjadi nostalgia, sementara bumi terus kehilangan daya dukungnya.

Indonesia, dengan segala kerentanan ekologisnya, harus menjadikan momentum ini sebagai titik balik: dari seremoni menuju kebijakan berani, dari kampanye menuju aksi nyata.

Catatan Penutup

Esai ini menegaskan bahwa Hari Lingkungan Hidup Sedunia bukan hanya milik aktivis atau akademisi, melainkan milik semua orang.

Krisis lingkungan adalah krisis peradaban. Jika kita gagal menjawab panggilan ini, maka generasi mendatang akan mewarisi bumi yang sakit.

Peringatan 5 Juni harus menjadi kompas moral: mengingatkan bahwa menjaga bumi bukan pilihan, melainkan kewajiban. (Silahudin)




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Polytron Surabaya International Challenge 2026: Kejutan Salsabila Tumbangkan Unggulan Utama, Wakil Indonesia Melenggang dari Babak 32 Besar

  Salsabila Amiradana (Foto dok pbsi.id) MENJUAL HARAPAN — Kejutan besar mewarnai gelaran Polytron Surabaya International Challenge 2026 di babak 32 besar (R32) yang berlangsung pada Rabu (23/9/2026) . Pebulu tangkis tunggal putri Indonesia, Salsabila Amiradana, sukses mencuri perhatian usai menumbangkan unggulan pertama asal Thailand, Passa-Orn Phannachet, dua gim langsung . Kemenangan mengejutkan Salsabila ini melengkapi raihan positif sejumlah wakil Merah Putih lainnya yang juga berhasil mengamankan tiket ke babak berikutnya . Kejutan Manis Salsabila Amiradana Tampil tanpa beban, Salsabila tampil memukau saat menghadapi unggulan teratas Passa-Orn Phannachet . Ia menyegel kemenangan 21-14, 21-18 dalam laga yang berlangsung disiplin . "Alhamdulillah hari ini bisa bermain sesuai rencana dan dijauhkan dari cedera. Di gim pertama saya langsung masuk mainnya dan lawan pun kurang panas," ungkap Salsabila usai laga . Kunci keberhasilannya mengunci gim kedua—meski sempat tertingga...

Prabowo Angkat 26 Anggota Wantimpres, Pratikno Jadi Ketua

Presiden Prabowo Subianto resmi menangkat 26 anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Republik Indonesia pada Jumat, 2 Oktober 2026 di Istana Negara, Jakarta. Foto: BPMI Setpres/Kris MENJUAL HARAPAN — Presiden Prabowo Subianto resmi mengangkat 26 anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Republik Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Jumat (2/10/2026). Dalam susunan baru tersebut, Pratikno ditetapkan sebagai Ketua merangkap anggota, Muhammad Hatta Rajasa sebagai Wakil Ketua merangkap anggota, dan Muhammad Qodari sebagai Sekretaris merangkap anggota. Pengangkatan tersebut didasarkan pada Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 107/P Tahun 2026 tentang Pengangkatan Keanggotaan Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia . Pelantikan 26 anggota Wantimpres itu menandai terbentuknya susunan baru lembaga yang memiliki posisi sebagai bagian dari mekanisme pemberian pertimbangan kepada Presiden dalam menjalankan pemerintahan. 26 Nama dalam Susunan Wantimpres Berdasarka...

Anomali Tata Kelola dan Paradoks Kebijakan: Menagih Kehadiran Negara dalam Dialektika Hukum, Agraria, dan Pendidikan

Ringkasan Esai 1.       Pendahuluan: Membingkai perdebatan hukum, agraria, dan pendidikan dalam kerangka sosiologi politik dan tata kelola pemerintahan ( good governance ). 2.       Bedah Isu 1 (RUU Perampasan Aset): Mengkritik penyelewengan barang rampasan oleh oknum aparat dan menagih transparansi digital. 3.       Bedah Isu 2 (Uji Materiil KUHAP 2025): Menganalisis potensi hegemoni Polri atas PPNS serta risiko diskresi penggeledahan tanpa izin ( due process of law ). 4.       Bedah Isu 3 (Reforma Agraria): Menganalisis efektivitas kelembagaan LPRA langsung di bawah Presiden dalam meredistribusi tanah dan menyelesaikan konflik. 5.       Bedah Isu 4 (Dekolonisasi RUU Sisdiknas): Mengulas pemikiran Bonnie Triyana mengenai pentingnya menghapus bias kolonial terhadap penganut kepercayaan. 6.       Bedah Isu 5 (KIP Kuliah & Pagu Angg...