Langsung ke konten utama

Belgia Bungkam Kroasia 2-0: Dominasi Taktis Setan Merah di Rijeka


Laga persahabatan internasional antara Kroasia vs Belgia
(Foto hasil tangkapan layar dari cnnindonesia.com)

MENJUAL HARAPAN Timnas Belgia sukses mengirimkan pesan berkelas kepada publik sepak bola Eropa lewat kemenangan meyakinkan dalam laga persahabatan internasional. Melawat ke markas Timnas Kroasia di Stadion HNK, Rijeka, pada Selasa dini hari WIB (3/6/2026), armada Setan Merah mempermalukan tuan rumah dengan skor dua gol tanpa balas.

Meskipun bertajuk laga persahabatan, tensi pertandingan yang mempertemukan dua kekuatan sepak bola modern ini tetap menyajikan intensitas tinggi. Namun, efektivitas taktis dan transisi cepat menjadi pembeda utama yang membuat Belgia keluar sebagai pemenang di akhir laga.

Menang di Lini Tengah, Kunci Dominasi Belgia

Kroasia yang dikenal memiliki salah satu lini tengah paling disegani di dunia, kali ini justru mendapati diri mereka kesulitan mengembangkan permainan.

Sejak peluit babak pertama dibunyikan, Belgia langsung menerapkan pressing ketat yang membuat aliran bola Vatreni (julukan Kroasia) kerap terputus sebelum masuk ke sepertiga akhir lapangan.

Dua gol yang bersarang ke gawang Kroasia merupakan buah dari disiplin posisi dan kejelian para pemain Belgia dalam memanfaatkan celah di lini pertahanan tuan rumah.

Keberhasilan mencetak dua gol di laga tandang seketat ini membuktikan bahwa lini serang Belgia tetap tajam dan menakutkan bagi siapa saja.

Catatan Evaluasi untuk Kedua Tim

Bagi Belgia: Kemenangan 2-0 di Rijeka ini menjadi modal moral yang luar biasa. Pelatih Belgia tampaknya sukses mematangkan rotasi pemain dan menguji skema defensif yang solid untuk meredam kreativitas pemain-pemain tengah Kroasia.

Bagi Kroasia: Kekalahan di hadapan publik sendiri jelas menjadi alarm bagi sang pelatih. Lini belakang mereka terlihat kerepotan menghadapi serangan balik cepat, sementara lini depan terlihat kurang klinis dalam memaksimalkan peluang yang ada.

Sebagai laga uji coba, hasil ini tentu menjadi bahan evaluasi yang sangat berharga bagi kedua pelatih sebelum mengarungi kompetisi resmi yang sesungguhnya. Belgia pulang dengan senyuman dan konfirmasi kekuatan mereka, sementara Kroasia harus segera berbenah untuk menemukan kembali ritme permainan terbaik mereka. (S_267)

Baca juga:

Dominasi Berlanjut Ana/Trias Jinakkan Wakil India Demi Tiket Babak Kedua Istora 

Terburu-buru dan Faktor Angin, Leo/Daniel Tersingkir Prematur 

Alarm Sektor Tunggal Putra: Alwi Farhan Tantang Jonatan Christie di Tengah Badai Kelelahan Istora 

Misi Balas Dendam Putri KW di Istora: Siap Redam Michelle Li Usai Jinakkan Wakil Taiwan 

Polytron Indonesia Open 2026: Menguji Semangat Gotong Royong Ekosistem Bulu Tangkis dan Modernisasi Sportainment Nasional



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...