Langsung ke konten utama

Persija Jakarta Cukur Habis Persebaya Surabaya di Pekan ke-27

MENJUAL HARAPAN - Tiga poin digengam Macan Kemayoran usai mencukur habis lawannya Persebaya Surabaya pada pertandingan pekan ke-27 BRI Super League 2025-2026.

Persija Jakarta tumbangkan Persebaya Surabaya dengan skor gol akhir 3-0 yang berlangsung digelar di Stadion Utama Bung Karno, Jakarta, pada Sabtu (11/4/2026).

Gol pembuka Persija Jakarta dicetak melalui tendangan penalti pada menit ke-16 akibat hukuman terhadap Persebaya. Eksekusi tendangan penalti dilakukan oleh Allano Brendon de Souza Lima.

Gol pembuka Persija tersebut terus bertahan hingga pertandingan babak pertama turun minum.

Baca juga: Borneo FC Bayang-bayangi Ancam Persib di Klasemen Usai Kalahkan PSBS Biak

Memasuki babak kedua, kedua tim kembali memasuki lapangan, dan tampak keduanya berusaha bangkit, utamanya Persebaya yang sudah tertinggal 0-1.

Duel ini cukup sengit dan bahkan sesekali terjadi pelanggaran yang dilakukan oleh kedua tim. Bahkan masing-masing pemain dari kedua tim terkena tiga kartu kuning.

Di tengah masih belum aman mengamankan gol, Persija Jakarta terus meningkatkan akselerasi serangannya ke pertahanan Persebaya Surabaya. Dan pada menit ke-54 Eksel Runtukahu berhasil membobol gawang kiper Persebaya.

Baca juga: Arema FC Pulang dengan Tiga Poin dari Markas Persita

Persebaya kembali tertinggal 0-2 dari tuan rumah Persija Jakarta, berusaha keluar dari tekanan pemain Macan Kemayoran. Serangan demi serangan pemain Persebaya terus menyibukkan hadangan pemain Persija.

Persija, kembali membalikkan serangan dan tekanannya ke pertahanan Persebaya Surabay, dan pada menit ke-74 Eksel Runtukahu kembali menggetarkan gawang kiper Persebaya Surabaya. Persija kembali raih keunggulan gol menjadi 3-0.

Baca juga: Laskar Lalinyamat Persijap Tumbangkan Bhayangkara FC

Tuan rumah sudah genggam tiga gol, namun pertandingan memperlihatkan intensitas serangan dari pemain Persebaya, kendati acapkali serangannya mendapat hadangan yang berarti dari pemain Persija.

Waktu pertandingan tuntas berakhir, Persija Jakarta raih tiga poin penuh, Persebaya Surabaya pulang dengan penuh kekecewaan.

Persija Jakarta kini koleksi 55 poin dan berada di urutan ke-3 klasemen BRI Super League 2025-2026, sedangkan Persebaya Surabaya berada di urutan ke-6 dengan mengoleksi 42 poin pekan kedua puluh tujuh. (S_267)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...