Langsung ke konten utama

Arema FC Pulang dengan Tiga Poin dari Markas Persita

MENJUAL HARAPAN - Pekan ke-27 BRI Super League 2025-2026 menghadirkan duel menarik di Banten International Stadium, Jumat malam (10/4/2026). Persita Tangerang yang tampil di hadapan publik sendiri harus menelan pil pahit setelah takluk 0-1 dari Arema FC.

Sejak awal pertandingan, kedua tim menunjukkan intensitas tinggi. Persita berusaha menguasai jalannya laga dengan dominasi penguasaan bola, sementara Arema FC lebih memilih menunggu dan mengandalkan serangan balik cepat.

Babak pertama berlangsung tanpa gol. Meski Persita beberapa kali menciptakan peluang lewat kombinasi serangan sayap, penyelesaian akhir mereka kurang tajam. Arema pun sesekali mengancam, namun kiper Persita tampil sigap menjaga gawang tetap aman.

Baca juga: Skor Gol PSIM Yogyakarta Vs PSM Makasar 1-2

Memasuki babak kedua, tensi pertandingan semakin meningkat. Persita mencoba menekan lebih agresif, tetapi pertahanan Arema yang disiplin membuat tuan rumah frustrasi.

Arema FC kemudian menemukan momentum emas. Pada menit ke-76, Gustavo Franco Amadio memanfaatkan celah di lini belakang Persita. Tendangan kerasnya tak mampu dibendung kiper tuan rumah, dan papan skor berubah menjadi 0-1.

Gol tersebut membuat Persita tersentak. Mereka langsung meningkatkan tempo permainan, berusaha keras menyamakan kedudukan. Namun, setiap serangan selalu kandas di barisan pertahanan Arema yang tampil solid.

Arema sendiri tidak hanya bertahan. Mereka tetap melancarkan serangan balik berbahaya, memaksa Persita berhati-hati agar tidak kebobolan lagi. Duel semakin sengit hingga menit-menit akhir.

Baca juga: Skor Gol 3-1 Marseille Vs Metz

Publik tuan rumah terus memberikan dukungan, berharap Persita bisa mencetak gol balasan. Namun, keberuntungan tidak berpihak. Beberapa peluang yang tercipta gagal dimaksimalkan, baik karena penyelamatan kiper maupun kurang akuratnya finishing.

Hingga peluit panjang berbunyi, skor tidak berubah. Arema FC berhasil mempertahankan keunggulan tipis 1-0 dan membawa pulang tiga poin berharga dari markas Persita.

Dengan hasil ini, Persita tetap berada di posisi ketujuh klasemen sementara dengan 41 poin. Sementara Arema FC naik ke peringkat ke-11 dengan koleksi 35 poin, semakin menjauh dari ancaman zona bawah. (S_267)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...