Langsung ke konten utama

Borneo FC Bayang-bayangi Ancam Persib di Klasemen Usai Kalahkan PSBS Biak

 

MENJUAL HARAPAN - Borneo FC bayang-bayangi Persib Bandung dalam perebutan klasemen. Borneo FC kini miliki 60 poin usai taklukkan PSBS Biak dengan skor gol 5-1.

Pekan ke-27 BRI Super League 2025-2026, Borneo FC yang menjamu PSBS Biak berlangsung digelar di Stadion Segiri, Samarinda, Sabtu sore WIB (11/4/2026).

Duel kedua tim ini sejak kick off, sesungguhnya begitu ketat dan sengit dengan memberi tekanan terhadap pertahanan lawannya.

Tuan rumah Borneo FC hasil aksi serangannya baru membuahkan gol lewat tendangan Mariano Peralta yang berhasil membobol gawang kiper PSBS Biak di menit ke-29.

Baca juga: Arema FC Pulang dengan Tiga Poin dari Markas Persita

Keunggulan sementara tuan rumah 1 gol tidak bertahan lama, karena tiga menit kemudina (32’) PSBS Biak berhasil membalasnya. Gol balasan PSBS Biak ditendang oleh Mohcine Hassan.

Posisi kedudukan gol sama 1-1, intensitas serangan yang dirancang bangun kedua kesebelasan maakin masif, utamanya Borneo FC yang terus menekan pertahanan PSBS Biak.

Borneo FC kembali mencetak gol keduanya lewat pencetak gol pertama yaitu Mariano Peralta pada menit ke-38.

Kemebali tuan rumah unggul 2-1 dari PSBS Biak, serangan demi serangan terus mengintai pertahanan masing-masing tim. Akan tetapi keduanya tidak kembali mencetak gol hingga pertanidngan jeda kedudukan masih tetap.

Baca juga: Pekan ke-27 BRI Super League: Skor Gol Madura Vs Persik 2-1 

Usai jeda, kedua tim kembali ke lapangan dengan ambisi memenangkan pertandingan pekan ke-27 ini. Aksi-aksi saling menyerang pertahanan lawannya dengan taktik yang diperagakan terus mewarnai laga ini.

Namun, tampak Borneo FC di babak kedua ini, terus menghantui ancaman terhadap gawang kiper PSBS Biak. Masifnya serangan dan sekaligus tekanan para pemain Borneo Fc terhadap PSBS Biak, membawa para pemainnya makin kerepotan menghadang gerak permaianan Borneo FC.

Baca juga: Laskar Lalinyamat Persijap Tumbangkan Bhayangkara FC

Juan Villa pada menit ke-65 berhasil mencetak gol ke gawang kiper PSBS Biak, dan tidak lama dari gol ketiga Borneo FC, gol keempat tercipta di menit ke-68 lewat tendangan Marcos Astina, sehingga kini Borneo FC unggul 4-1 dari PSBS Biak.

Tampak tidak berhenti disitu, para pemain Borneo FC makin menggila menekan pertahanan PSBS Biak. Tekanan para pemain tuan rumah itu membuat pemain PSBS biak kerepotan menghadangnya.

Buah yang bertubi-tubi tekanan pemain Borneo FC, akhirnya pada menit ke-88, Komang Teguh berhasil menggenapkan kemenangan Borneo FC menjadi 5-1.

Di sisa-sisa waktu normal yang tinggal beberapa detik, PSBS Biak makin sulit untuk membalasnya. Dan pertandingan Borneo FC versus PSBS Biak pun berkahir.

PSBS Biak makin terpuruk berada di zona degradasi pada klasemen BRI Super League pekan kedua puluh tujuh. (S_267)




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...