Langsung ke konten utama

Serie A: Como Raih Kemenangan Lawan Lecce, Verona Derita Kekalahan Lawan Napoli

 


MENJUAL HARAPAN - Como menjamu Lecce pada laga Serie A pekan ke-27 berlangsung digelar di Stadio Giuseppe Sinigaglia, Como, Sabtu (28/2/2026).

Tuan rumah Como kebobolan lebih dahulu oleh Lecce pada menit ke-14 lewat tendangan yang menggetarkan gawang kiper Como oleh Lassana Coulibaly.

Akan tetapi, empat menit kemudian (18’), Como berhaisl menyamakan gol lewat tendangan Anastasios Douvikas.

Usai menyamakan kedudukan gol 1-1 ini, tuan rumah Como makin menggila lakukan pergerakan menyerangnya ke pertahanan Lecce, dan membuat para pemain Lecce kewalahan menghadang gempuran para pemain Como.

Berkat gempuran yang terus menekan perhanan Lecce, akhirnya pada menit ke-36 Jesus Rodrigues berhasil menggetarkan gawang kiper Lecce, sehingga kedudukan berubah menjadi Como 2-1 Lecce.

Tidak berhenti di situ, tuan rumah makin antusias memenangkan pertanidngan ini dengan terus menekan pertahanan Lecce. Aksi demi aksi menyerangnya, menit ke-44 kembali Como menggoyangkan gawang kiper Lecce lewat tendangan Marc Oliver Kampt.

Dengan kedudukan 3-1 ini bertahan hingga jeda, akan tetapi pada babak kedua duelnya makin ketat dan saling menekan ini, tidak alami perubahan kedudukan gol hingga pertandingan berakhir.

Como raih tiga poin dan kini berada di posisi ke-5 dengan mengoleksi 48 poin, sementara Lecce berada di urutan ke-18 dengan 24 poin klasemen Liga Italia musim 2025-2026 pekan ke-27.

Baca juga: Inter Milan Makin Mantap Pimpin Klasemen

Adapun pada pertandingan lainnya, Minggu dini hari WIB (1/3/2026) adalah Verona versus Napoli.

Verona versus Napoli ini berlangsung digelar di Marcantonio Bentegodi, Verona.

Verona pada pekan ke-27 ini dikalahkan oleh Napoli dengan skor gol akhir 1-2.

Napoli meraih dua gol yang dicetak pada menit ke-2 oleh Ramus Halund, dan pada menit ke-90+6 oleh Romelu Lukaku. Sedangkan satu gol tuan rumah Verona dicetak Jean Daniel Akpa Akpro pada menit ke-64.

Derita kekalahan di pekan ini, Verona berada di urutan terakhir atau zona degradasi dengan 15 poin. Sedangkan Napoli berada di papan atas urutan ke-3 dengan mengoleksi 53 poin. (S_267)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...