Langsung ke konten utama

Dua Papan Atas Aston Villa Vs Chelsea, Chelsea Menang

  

MENJUAL HARAPAN - Aston Villa menjamu Chelsea di pekan ke-29 berlangusng digelar di Villa Park, Bringham, Kamis dini hari WIB (5/3/2026).

Tuan rumah Aston Villa langsung menggebrak pertahanan Chelsea sehingga menit ke-2 gawang kiper Chelsea bobol oleh tendangan Douglas Luiz.

Namun, usaia unggula sementara tuan rumah, tidak kembali mencetak gol, bahkan pada menit ke-35 Jolia Fedro berhasil membalasnya sehingga kedudukan sama menjadi 1-1.

Kemudian pada waktu tambahan di babak pertama, Chelsea kembali membobol gawang kiper tuan rumah Aston Villa lewat tendangan Jolia Fedro, dan hingga jeda, Aston Villa 1-2 Chelsea.

Usai jeda, pertandingan makin sengit, dan tuan rumah berusaha bangkit dengan melakukan aksi serangannya, namun gagal membuahkan gol.

Sementara, serangan Chelsea pada menit ke-55 melalui Cole Palmer berhasil menggetarkan gawang kiper Aston Villa.

Chelsea kembali unggul 3-1 dari tuan rumah, dan tuan berusaha keluar dari tekanan para pemain Chelsea, namun tampak justru para pemain Chelsea makin percaya diri dengan hadangan dan serangannya. Sehingga serangan Jolio Pedro di menit ke-64 mencetak gol ketiganya ke gawang kiper Aston Villa, sehingga kedudukan kembali berubah, Chelsea 4-1 Aston Villa.

Tertinggal jauh Aston Villa dari lawannya, terus berusaa melakukan akselerasi serangannya ke pertahanan Chelsea, akan tetapi hadangan para pemain Chelsea membuat serangan tim tuan urmah buntu.

Waktu normal pertandingan makin menipis, tuan rumah masih belum mampu memperkecil ketertinggalannya, dan bahkan hingga wasit meniup peluit panjang berkahirnya pertandngan, kedudukan gol tidak alami perubahan lagi.

Aston Villa gagal memetik poin, kedudukannya kini berada di posisi ke-4 dengan mengoleksi 51 poin, sementara Chelsea berada di urutan ke-5 dengan mengoleksi 48 poin klasemen Premier League 2025-2026 pekan kedua puluh sembilan. (S_267)




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...