Langsung ke konten utama

Real Madrid dan PSG Berhasil Raih Tiket ke Bababk 16 Besar Liga Champions UEFA


MENJUAL HARAPAN - Babak play -off leg kedua Liga Champions yang menyguhkan Real madrid versus Benfica, dan PSG (Paris Saint-Germain) berhasil memastikan lolos ke babab 16 besar UEFA Champions League 2025-2026.

Real Madrid pada play -off leg kedua ini menjamu Benfica di Stadion Santiago Bernabeu, Kamis dini hari WIB (26/2/2026).

Madrid berhasil mengalahkan benfica dengan skor gol 2-1. Dua gol Madrid dicetak pada menit ke-16 oleh Aurilien Tchouameni, dan menit ke-80 yang dicetak oleh Vinicius Junior.

Bencifa unggul lebih dahulu di menit ke-14 yang dicetak oleh Rafa Silva, namun tuan rumah akhurnya membalikkan keadaan dengan memenangkan pertandingan leg kedua Liga Champions.

Dengan berakhrinya leg kedua Liga Champions ini, agregat Real Madrid 3-1 Benfica. Real Madrid lolos raih tiket ke babab 16 besar.

Baca juga: Liga Champions: Atalanta Lolos Babak 16 Besar, Juventus dan Inter Mental

Sedangkan pada pertandingan lainnya, PSG versus Monaco berlangsung digelar di Parc des Princes, Paris pada Kamis dini hari WIB (26/2/2026).

Paris Sant-Germain (PSG) versus AS Monaco berkahir imbang dengan skor gol 2-2.

Dua gol masing-masing, PSG dicetak pada menit ke-60 oleh Marquanhos dan Khvicha Kvaratckhelia di menit ke-66. Sedangkan Monaco mencetak dua gol di menit ke-45 melalui tendangan Maghanes Akhlouche, dan menit ke-90+1 lewat tendangan Jordan Teze.

Kendati berakhir dengan seri gol 2-2, PSG berhasil lolos ke babak 16 besar Liga Champions, karena memiliki agregat 5-4 dari Monaco.

Tim-tim yang lolos ke babak 16 besar UEFA Champions League 2025-2026 baru akan mengetahui berhadapan dengan tim lainnya setelah adanya drawwing. (S_267)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...