Langsung ke konten utama

Skor Gol Freiburg Vs Celta 3-0 di Leg Pertama Liga Eropa

 

MENJUAL HARAPAN - Perempat final Liga Eropa putaran pertama, Freiburg menjadi tuan rumah menjamu Celta. Pertandingan ini berlangsung digelar di Europa-Park-Stadion, Jumat dini hari WIB (10/4/2026).

Freiburg berhasil tumbangkan Celte dengan skor gol akhir tanpa balasan 3-0.

Gol pembuka tuan dicetak dari proses tendangan bebas Vencenzo Grifo pada menit ke-9 lebih beberapa detik.

Freiburg begitu dominan menguasai permaianan leg pertama Liga Eropa 2025-2026 ini, dan gol kedua melalui proses kemelut di tengah kotak penalti berhasil dicetak leh Jan Niklas Beste di menit ke-32.

Memang, sesekali pemain Celta juga melakukan aksi menyerang dan menekan pertahanan Freiburg, namun tidak membuahkan hasil gol.

Baca juga: Perempat Final Liga Champions: Barcelona Dibantai Atletico Madrid

Kedudukan gol 2-0 di babak pertama ini tidak alami perubahan hingga waktu jeda tiba.

Memasuki babak kedua usai jeda, Celta yang sudah tertinggal 0-2, berusaha bangkit dengan melakukan aksi serangan beberapa kali ke pertahanan Freiburg.

Babak kedua sudah berjalan memasuki menit ke-70 an lebih, dan tepatnya menit ke-78, Mathias Ginter menggenapkan perolehan gol bagi Freiburg.

Baca juga: Perempat Final Liga Champions, PSG Berhasil Tekuk Liverpool

Celta makin jauh tertinggal, kendati berusaha melakukan tekanan terhadap pertahanan Freibur, namun acapkali serangannya dihadang oleh pemain Freiburg.

Waktu pertandingan berakhir dengan kemenangan Freiburg, dan Freiburg sudah memiliki modal yang signifikan untuk melaju ke seminfinal Liga Eropa. Sementara Celta harus berusaha keras di leg kedua untuk meraih tiket semifinal. (S_267)

Baca juga: Perempat Final Liga Eropa, Skor Gol Imbang Braga Vs Betis





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...