Langsung ke konten utama

Perempat Final Liga Champions: Real Madrid Tumbang Lawan Bayern Munchen

MENJUAL HARAPAN - Leg pertama perempat final UEFA Champions League 2025-2026, Real Madrid menjadi tuan rumah berhadapan dengan Bayern Munchen.

Real Madrid kontra Bayern Munchen ini berlangsung digelar di Santiag Bernabeu, Rabu dini hari WIB (8/4/2026).

Pertarungan sengit putaran pertama dari dua putaran ini, Madrid derita kekalahan dengan skor gol 1-2.

Bayern Munchen langsung menekan tuan rumah dengan aksi serangan masifnya ke pertahanan Madird. Dan gol baru tercipta di menit ke-41 lewat tendangan Luis Diaz ke gawang kiper Real Madrid.

Bayern Munchen tampak agresif dengan menguasi permaianan ketimbang tuan rumah. Serangan demi serangan para pemain Bayern terus menghiasi ancaman gawang kiper tuan rumah.

Kedudukan gol 0-1 ini tidak alami perubahan lagi hingga jeda.

Usai jeda, memasuki babak kedua, justru sksi serangan dan tekanan Bayern Munchen kembali membobol gawang kiper Madrid di menit ke-46 lewat tendangan Harry Kane.

Bayern Munchen 2-0 Madrid ini, tuan rumah Madrid berusaha membebaskan tekanan dan dominasi pemain Bayern Munchen dengan meningkatkan taktik serangannya ke pertahanan Bayern.

Serangan tuan rumah Real Madrid baru berhasil memperkecil ketertinggalannya pada menit ke-74.

Gol balasan Madrid dicetak oleh Kylian Mbappe, dan posisi gol menjadi 1-2.

Di tengah waktu normal terus berjalan, para pemain tuan rumah terus meningkatkan volume serangannya ke pertahanan Bayern Munchen, akan tetapi, para pemain Munchen sigap menghadang dan menggagalkannya.

Waktu juga yang mengakhir pertandingan ini, dimana Real Madrid di leg pertama lawan Bayern Munchen ini berakhir dengan kekalahan 1-2.

Sementara, Bayern Munchen sudah memiliki modal awal dengan kemenangan ini, dan putaran kedua Munchen menjadi tuan rumah dalam pertarungan sengit perempat final Liga Champions UEFA. (S_267)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...