Langsung ke konten utama

Perempat Final Liga Eropa, Skor Gol Imbang Braga Vs Betis


MENJUAL HARAPAN - Liga Eropa atau Europa League 2025-2026 telah memasuki babak perempat final. Babak perempat final setiap tiap tim bermain dua pertandingan.

Pada leg pertama, Sporting Braga versus Real Betis berlangsung digelar di Stadion Municipal de Braga, Kamis dini hari WIB (9/4/2026).

Tuan rumah Braga langsung membuat shock terapy menekan pertahanan Betis, dan di waktu memasuki menit ke-5, Sporting Braga langsung menghantam gawang kiper Real Betis, sehingga si kulit putih bundar menggetarkannya.

Baca juga: Perempat Final Liga Champions: Real Madrid Tumbang Lawan Bayern Munchen

Gol tercipta di menit kelima oleh Flonan Grillitch. Dan usai unggul sementara tuan rumah Braga, gol possision terus mewarnai aksi-aksi silih serang diperagakan kedua tim ini.

Silih berganti menekan pertahanan yang dipermainkan oleh Braga dan Betis, tampak belum merubah keadaan lagi hingga turun minum.

Usai jeda, kedua kesebelasan berusaha bangkit dengan taktik permainan yang dijalankannya untuk memenangkan laga putaran pertama.

Namun, Real Betis yang tertinggal 0-1 dari tuan rumah Braga, berusaha membalasnya dengan sentuhan-sentuhan bola yang terus mengancam Braga. Sentuhan serangan Real Betis akhirnya berhasil menciptakan gol pada menit ke-61 melalui tendangan penalti Juan Camilo Hermandez.

Kedudukan sama 1-1, duel memperebutkan tiket untuk melenggang ke semifinal Liga Eropa makin sengit di babak kedua ini.

Memang, relatif Braga mendominasi permainan, akan tetapi pertanidngan leg pertama dari dua leg ini berakhir imbang dengan skor gol akhir 1-1.

Baca juga: Sporting CP Jamu Arsenal, dan Kalah di Leg Pertama Perempat Final Liga Champions

Dengan masing-masing gol sama ini, Sporting Braga dan Real Betis memiliki peluang yang sama untuk lolos raih tiket semifinal Liga Eropa. 

Keuntungan Real Betis pada leg kedua menjadi tuan rumah yang tentu disupport pendukung panatiknya, dan memiliki peluang yang besar untuk memenangkannya. 

Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan juga Sporting Braga di markas Betis membuat kejutan. (S_267)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...