Langsung ke konten utama

Sporting CP Jamu Arsenal, dan Kalah di Leg Pertama Perempat Final Liga Champions

MENJUAL HARAPAN - Pertaarungan sengit antara Sporting CP versus Arsenal dalam perebutan kemenangan di perempat final UEFA Champions League 2025-2026.

Silih berganti menyerang mewarnai duel kedua tim ini yang berlangsung digelar di Estadio Jose Alvalade, Lisbon pada Rabu dini hari WIB (8/4/2026).

Babak pertama penuh determinasi yang dilakukan oleh kedua tim dengan saling menekan pertahanan lawannya, akan tetapi, babak pertama berakhir dengan posisi tanpa gol.

Baca juga: Perempat Final Liga Champions: Real Madrid Tumbang Lawan Bayern Munchen

Memasuki babak kedua, masing-masing tim ini meningkatkan volume serangannya dengan strategi dan taktik menyerangnya. Namun Arsenal tampak lebih mendominasi penguasaan bola dan serangannya ke pertahanan Sporting CP.

Sporting CP, tidak kehilangan konsentrasinya kendati di bawah tekanan para pemain Arsenal, melakukan serangan yang sesekali mengancam pertahanan lawannya.

Babak kedua, waktu normal pertandingan nyaris berakhir, akan tetapi masih belum ada gol yang tercipta.

Malang tak terhindar, di waktu menit 90+1, Sporting CP kehilangan konsentrasi, dan gawang kipernya kebobolan oleh pemain Arsenal, Kai Havertz.

Arsenal raih kemenangan di putaran pertama perempat final UEFA Champions League 2025-2026 ini, dan pada leg kedua Arsenal menjadi tuan rumah.

Hasil ini, Arsenal sudah memiliki modal untuk menyongsong tiket semifinal. Dan pada legi kedua Arsenal hanya membutuhkan imbang sudah bisa melaju ke semifinal, sementara Sporting CP harus berusaha keras memenangkannya untuk mendapat tiket lolos ke semi final Liga Champions Eropa. (S_267)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...