Langsung ke konten utama

Perempat Final Liga Champions, PSG Berhasil Tekuk Liverpool

 

MENJUAL HARAPAN - Paris Saint-Germani (PSG) berhasil taklukkan Liverpool dalam laga pertandingan perempat final UEFA Champions League 2025-2026.

PSG pada leg pertama ini menjamu Liverpool berlangsung digelar di Parc des Princes, Kamis dini hari WIB (9/4/2026).

Kick off babak pertama dimulai, tampak tuan rumah PSG siap menyerang dan menekan Liverpool. Tekanan serangan PSG membuahkan hasil gol pada menit ke-11 yang dicetak oleh Desire Doue.

Liverpool usai kecolongan gawangnya, berusaha meningkatkan volume serangannya ke pertahanan PSG, akan tetapi, hadangan para pemain PSG membuat serangan Liverpool gagal.

Baca juga: Perempat Final Liga Eropa, Skor Gol Imbang Braga Vs Betis

Babak pertama terus diwarnai saling menekan ini masih belum merubah keadaan kembali hingga pertandingan turun minum.

Memasuki babak kedua, Liverpool berusaha bangkit dengan akselerasi serangannya. Lagi-lagi aksi tekanannya buntu, oleh karena para pemain PSG begitu sigap dan siap menghadang atau menggagalkan serangan lawannya.

Baca juga: Perempat Final Liga Champions: Real Madrid Tumbang Lawan Bayern Munchen

Duel PSG versus Liverpool ini, tampak tuan rumah begitu dominan menguasai bola, sehingga serangan demi serangan menekan pertahanan Liverppool terus mengancamnya.

PSG kembali mencetak gol di menit ke-65 lewat tendangan Khvicha Kvaratskhelia, dan dua gol sudah digenggam PSG.

Tertinggal kembali Liverpool 0-2 dari tuan rumah PSG, mencoba kembali dengan taktik serangannya untuk membalas kebobolannya, namun pertandingan hingga peluit panjang ditiup, Liverpool tak mampu membalasnya.

Baca juga: Sporting CP Jamu Arsenal, dan Kalah di Leg Pertama Perempat Final Liga Champions

Hasil pertandingan leg pertama ini, PSG sudah memiliki modal awal untuk meraih tiket lolos ke semifinal Liga Eropa.

Liverpool pada putaran kedua sebagai tuan rumah, memiliki pelaung besar untuk memenangkan pertandingan ini melebihi hasil gol yang diraih PSG.

Kedua tim ini, masih memiliki peluang yang relatif sama untuk melaju ke semifinal UEFA Champions League 2025-2026. (S_267)




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...