Langsung ke konten utama

Malut United Derita Kekalahan di Kandang Sendiri Lawan Dewa United

MENJUAL HARAPAN - Malut United pekan ke-27 menjamu Dewa United berlangsung digelar di Stadion Gelora Kie Raha, Ternate, Minggu (12/4/2026).

Pekan ini, Malut United tidak berhasil raih poin, karena dikalahkan oleh tim tamu Dewa United dengan skor gol 1-2.

Dewa United berkat intensitas serangannya ke pertahanan Malut United, pada menit ke-22 berhasil membobol gawang kiper tuan rumah.

Gol pembuka Dewa United dicetak oleh Alex Martins Ferreira. Namun di waktu tambahan babak pertama, tepatnya menit ke-45+2 serangan pemain Malut United ke pertahanan Dewa United menghasilkan hadiah penalti.

David da Silva mengeksekusi tendangan penalti ke gawang kiper Dewa United dan berhasil. Kedudukan menjadi sama 1-1.

Baca juga: Persis Solo Berhasil Memenangkan Pertandingan Lawan Semen Padang

Kedudukan sama itu, tidak ada perubahan lagi hingga turun minum tiba.

Usai istirahat, kedua tim kembali memasuki lapangan, dan berusaha bangkit keduanya untuk meriah kemenangan duel ini.

Babak kedua, tampak alot sehingga hingga pertandingan mendekati akhir waktu normal belum ada gol lagi.

Baca juga: Persib Bandung Menang Tipis Lawan Bali United

Waktu normal pertandingan habis, dan terjadi injury time, waktu tambahan ini berpihak kepada Dewa United, dimana para pemainnya mengoptimalkan serangannya sehingga di menit ke-90+7, Alex Martins Ferreira menjad pahlawan kemenangan bagi timnya Dewa United.

Pertandingan berakhir dengan mana Malut United kecewa tidak raih poin, kini berada di urutan ke-4 dengan 46 poin, sedangkan Dewa United sendiri dengan tambahan tiga poin berada di urutan ke-8 dengan mengoleksi 40 poin pada klasemen sementara BRI Super League musim 2025-2026 pekan kedua puluh tujuh. (S_267)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...