Langsung ke konten utama

Persib Bandung Menang Tipis Lawan Bali United


MENJUAL HARAPAN - Persib Bandung pekan ke-27 berhadapan dengan Bali United yang diselenggarakan di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Minggu malam (12/4/2026).

Persib Bandung pada pertandingan ini menang tipis dengan skor gol akhir 3-2.

Kick off babak pertama, kendati Maung Bandung berinisiatif menyerang lebih dahulu, namun baru membuahkan gol di pertengan babak pertama, tepatnya menit ke-29 lewat tandukan Ramon Tanque.

Gol pembuka Persib Bandung ini bertahan hingga turun minum.

Memasuki babak kedua, kedua kesebelasan berusaha saling menekan pertahanan lawannya. Bali United yang tertinggal berusaha keras dengan akselerasi serangannya ke pertahanan Persib Bandung, namun tidak berhasil membuahkan gol.

Kemudian, silih berganti menekan terhadap pertahanan lawan, Persib Bandung terus melancarkan aksi serangannya, dan serangan di menit ke-55 Luciano Guaycochea menggetarkan gawang kiper Bali United.

Persib Bandung kembali unggul sementara 2-0 dari Bali United, duel makin sengit bahkan keras, sehingga pelanggaran pun acapkali terjadi, bahkan Persib Bandung harus bermain sepuluh pemain karena pada menit ke-66, Patrico Matricandi diusir wasit karena terkena hukuman kartu merah.

Di tengah tekanan yang makin masif dari Bali United, justru Persib kehilangan salah satu pemainnya. Dan Bali United meningkatkan volume serangannya yang terus menerus ke pertahanan Persib, sehingga Bali United akhirnya pada menit ke-81 berhasil menggoyangkan gawang kiper Persib.

Gol balasan Bali United dicetak oleh Teppei Yachida. Namun, selang enam menit kemudian, Persib Bandung kembali menciptakan gol lewat tendangan Fedrico Barba.

Posisi kedudukan gol Persib Bandung 3-1 Bali United, justru duel makin sengit, bahkan Bali United terus menekan pertahanan Maung Bandung. Akan tetapi waktu normal pertandingan habis, dan terjadi tambahan waktu.

Tampahan waktu pertandingan ini, dioptimalkan Bali United sehingga berhasil mencetak gol keduanya lewat tendangan Jordi Brujin di menit ke-90+3.

Di tengah kedudukan 3-2 ini, para pemain Bali United makin terus menekan, sementara Persib Bandung berusaha mempertahankan keunggulannya dengan memperlambat permainan.

Pertandingan pada akhirnya tuntas, dan Persib Bandung selamat mempertahakankan kemenangannya di kandang sendiri dengan kedudkan gol 3-2.

Pekan ke-27 ini, Persib Bandung masih kokoh di puncak klasemen dengan mengoleksi 64 poin, sedangkan Bali United berada di urutan ke-10 dengan mengoleksi 36 poin. (S_267)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...