Langsung ke konten utama

Misi Revans Tuntas: Fardhan Joe Melesat ke Final BAJC 2026, Jaga Asa Emas Indonesia

Fardhan Rainanda Joe (Foto Human PP PBSI)

MENJUAL HARAPAN – Tunggal putra masa depan Indonesia, Fardhan Rainanda Joe, sukses menjaga napas dan asa Indonesia untuk membawa pulang gelar juara dari ajang bergengsi Badminton Asia Junior Championships (BAJC) 2026.

Menguras keringat dan emosi, pebulu tangkis besutan Exist Badminton Club ini berhasil menyegel tiket ke partai puncak setelah menumbangkan rival sengitnya asal China, Luo Yu Jing.

Bertanding di Yatsushiro City General Gymnasium, Jepang, pada Sabtu (4/7/2026), Joe menyudahi perlawanan alot Jing lewat drama rubber game yang mendebarkan, 21-16, 15-21, 23-21, dalam durasi 61 menit.

Membakar Memori Kelam, Bermain Nothing to Lose

Kemenangan ini terasa sangat manis karena mengusung misi balas dendam yang tuntas. Pada pertemuan perdana mereka di semifinal Asian Youth Games Bahrain 2025, Joe sempat dipaksa menelan pil pahit setelah takluk dalam duel 52 menit dengan skor 21-19, 13-21, 18-21.

Beban psikologis itu tak ditampik oleh Joe, namun motivasi untuk bangkit jauh lebih besar.

"Tekanan pasti ada, karena di Asian Youth Games 2025 saya kalah lawan beliau, jadi motivasi untuk pertandingan tadi mau revans," ungkap Joe kepada tim Humas dan Media PP PBSI. "Pelatih meyakinkan untuk bermain nothing to lose karena tidak ada yang tidak mungkin."

Pertandingan semifinal ini berjalan sangat menguras energi. Joe sempat kehilangan momentum di gim kedua karena faktor non-teknis berupa kondisi lapangan yang licin, yang dinilainya cukup mengganggu pergerakan di lapangan.

Akan tetapi, di masa-masa kritis gim penentu, kedewasaan bertanding Joe berbicara. "Di akhir-akhir gim, pikiran dan mental serta dukungan dari rekan-rekan tim jadi kunci kemenangan saya," tambahnya.

Menatap Tembok China Berikutnya di Partai Puncak

Langkah Joe untuk menaiki podium tertinggi kini tinggal selangkah lagi. Pada laga final yang digelar hari Minggu (5/7), Joe sudah dinanti oleh wakil China lainnya, Hong Tian Yue. Karena ini merupakan pertemuan perdana bagi kedua pemain, Joe menyadari bahwa perang saraf dan kesiapan mental akan memegang peranan krusial.

"Besok harus disiapkan lagi mental dan pikirannya karena lawan juga sudah tahu permainan saya," pungkas Joe yang juga meminta restu penuh dari pencinta bulu tangkis tanah air, "Untuk masyarakat Indonesia, tetap dukung saya terus di final nanti sampai saya jadi juara." (*Sjs_267)

Sumber Berita: djarumbadminton.com “ BAJC 2026 - Fardhan Rainanda Joe Balas Kekalahan, Tembus Final" (diakses, 5/7/2026)


Baca juga:

Langkah Joven/Joseph Terhenti di Perempat Final, Akui Keunggulan Menara Kembar China 

Di Perempat Final AJC 2026: Sektor Ganda Putri Indonesia Habis Tak Tersisa 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...