Langsung ke konten utama

Empat Negara Duel Rebutkan Tiket Grand Final Piala Dunia 2026

MENJUAL HARAPAN - Babak perempat final Piala Dunia 2026 telah berakhir, dan babak semi-final tinggal beberapa hari lagi (sudah tiba). 

Mereka tim-tim yang siap di babak semi-final adalah Argentina akan berhadapan dengan Inggris, dan Prancis versus Spanyol.

Timnas Inggris bertemu dengan Timnas Argentina bertemu di semi-final Piala Dunia 2026, setelah mengalahkan lawannya di babak perempat final.

Inggris mengalahkan Norwegia dengan skor 2-1 di babak 16 besar, sedangakn Argentina menendang Swiss dengan skor gol 3-1 setelah perpanjangan waktu.

Duel pergulatan Inggris versus Argentina bakal bergulir di Atlanta Stadium pada 16 Juli 2026 sekitar pukul 02.00 WIB yang akan datang.

Argentina versus Inggris sudah beberapa keli bertemua di laga Piala Dunia. Bahkan Inggris lebih unggul ketimbang Argentina.

Pada Piala Dunia FIFA 2026 ini, Timnas Inggris versus Timnas Argentina merupakan pertemuan keenam.

Tiga kali kemenangan timnas Inggris atas timnas Argentina itu terjadi pada tahun 1962, 1966 dan 2002. Sedangkan dua kali bagi kemenangan Timnas Argentina pada thun 1986, dan 1998 menendang Inggris dengan adu penalty di babak 16 besar.

Adapun timnas Prancis akan berhadapan dengan Timnas Spanyol pada babak semfinal Piala Dunia 2026 ini.

Prancis versus Spanyol pernah bertemu satu kli di putaran final Piala Dunia 2006 dalam babak 16 besar di Jerman. Dan pada pertemuan itu, Prancis meraih kemenangan atas lawan Spanyol dengan skor gol 3-1.

Bertemua di babak 4 besar Piala Dunia 2026 ini Prancis versus Spanyol merupakan pertemuan kedua, dan akan bergulir tanding pada Rabu 16 Juli 2026 pukul 02.00 WIB, dan stadion yang menjadi duel Prancis versus Spanyol adalah Stadion Dallas, Arlington, Texas.

Perebutan tiket 4 besar Piala Dunia 2026 Prancis versus Spanyol dan Inggris versus Argentina, dimana pemenangnya akan bertemu di babak grand final FIFA World Cup 2026. (S_267)

Baca juga:

Usai Waktu Tambahan, Argentina Melumat Swiss dengan Skor Gol 3-1 

Norwegia Angkat Koper, Inggris Melaju ke Semifinal Piala Dunia 2026 

Hard Rock Stadium Jadi Panggung Perebutan Tiket Semifinal Norwegia Vs Inggris 

Perempat Final Piala Dunia 2026: Spanyol ke Semifinal Kalahkan Belgia 

Prancis Tendang Maroko di Perempat Final

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...