Langsung ke konten utama

Donyell Malen Borong Tiga Gol untuk Kemenangan Roma Vs Pisa


MENJUAL HARAPAN - Pekan ke-32 Serie A musim 2025-2026, Roma menjamu Pisa. Roma berhasil tumbangkan Pisa dengan skor gol 3-0.

Pertandingan Roma versus Pisa diselenggarakan langsung di Stadion Olimpiade Roma, Sabtu dini hari WIB (11/4/2026).

Tuan rumah Roma begitu kock off, langsung menekan pertahanan Pisa, dan gawang kiper Pisa pada menit ke-3 sudah kebobolan lewat tendangan Donyell Malen.

Gol cepat tuan rumah, tampak membuat para pemain Pisa tersentak, sehingga setelah membawa bola ke titik putih tengah lapangan mencoba melakukan aksi serangan ke pertahanan Roma, namun serangannya masih belum berhasil menciptakan gol.

Duel kedua tim sungguh sengit, sehingga saling memberikan ancaman juga acapkali terjadi. Kemudian, jalan pertandingan babak pertama memasuki menit ke-43, Donyell Malen kembali menggetarkan gawang kiper Pisa, dan Roma kembali unggul.

Baca juga: Drama Porto Vs Nottingham Forest Berakhir Imbang

Tuan rumah Roma unggul sementara 2-0 dari lawannya, namun pertandingan babak pertama hingga turun minum, posisi gol tidak alami perubahan lagi.

Memasuki babak kedua, Pisa mencoba berusaha bangkit dan keluar dari tekanan para pemain Roma. Namun tampak pemain tuan rumah jauh lebih sigap dan siap menerkam pertahanan Pisa.

Baca juga: Bologna Dibantai Aston Villa di Leg Pertama Perempat Final Liga Eropa

Serangan pemain Roma terus menekan pertahanan Pisa, sehingga di menit ke-52 Donyell Malen kembali menggetarkan gawang kiper Pisa yang ketiga kalinya.

Pisa tertinggal 0-3 dari tuan rumah Roma, berusaha memperkecil kebobolan gawangnya, namun pergerakan menekan pertahanan Roma, buntu dihadang pemain Roma.

Waktu pertandingan juga habis, dan wasit meniup peluit berakhirnya pertandingan Serie A pekan ke-32 antara Roma versus Pisa.

Baca juga: Skor Gol Freiburg Vs Celta 3-0 di Leg Pertama Liga Eropa

Hasil pertandingan ini, Roma raih tiga poin penuh dan kini berada di urutan ke-6 dengan mengoleksi 57 poin, sedangkan Pisa berada di zona degradasi Serie A dengan miliki 18 poin. (S_267)




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...