Langsung ke konten utama

Nottingham Forest Vs Fenerbahce 1-2 di Leg Kedua Liga Eropa, Nottingham Forest Menang Agregat dan Lolos ke Babak 16 Besar

MENJUAL HARAPAN - Nottingham Forest menjamu Fenerbachce pada pertandingan leg kedua Liga Eropa 2025-2026 di City Ground , Jumat (27/2/2026).

Nottingham Forest dengan Fenerbahce, sejak awal duel, atmosfer terasa menegangkan. Tim tamu datang dengan ambisi besar, sementara tuan rumah berusaha mempertahankan keunggulan agregat yang sudah mereka kantongi. Malam itu, drama sepak bola Eropa kembali tersaji dengan penuh emosi.

Fenerbahce tampil berani. Pada menit ke-22, Karem Akturkoglu membuka skor dengan penyelesaian klinis yang mengejutkan publik tuan rumah. Gol tersebut membuat tensi pertandingan meningkat, karena Nottingham Forest mulai merasakan tekanan nyata dari tim asal Turki. Sorak sorai pendukung Fenerbahce yang hadir pun bergema, menambah intensitas laga.

Belum selesai rasa cemas itu, pada menit ke-48, Akturkoglu kembali mencatatkan namanya di papan skor. Kali ini melalui titik penalti, ia dengan tenang menaklukkan kiper Nottingham Forest.

Baca juga: Liga Eropa Leg Kedua: Bologna Taklukkan Brann, Celta Vs PAOK 1-0

Skor 0-2 membuat City Ground seakan membeku. Forest berada di ujung tanduk, nyaris kehilangan keunggulan agregat yang mereka bawa dari leg pertama.

Namun, sepak bola selalu menyimpan ruang bagi kebangkitan. Pada menit ke-68, Callum Hudson-Odoi menjadi penyelamat. Tendangan kerasnya menembus pertahanan Fenerbahce dan menggetarkan jala lawan. Gol itu bukan hanya menghidupkan semangat tim, tetapi juga membangkitkan kembali sorak sorai publik tuan rumah yang sempat terdiam.

Baca juga: Liga Eropa Leg Kedua: VfB dan Ferencvaros Lolos ke Babak 16 Besar

Gol Hudson-Odoi menjadi titik balik. Meski Fenerbahce terus menekan, Nottingham Forest berhasil menjaga ritme permainan hingga akhir. Skor 1-2 memang menunjukkan kekalahan di laga tersebut, tetapi secara agregat Forest tetap unggul 4-2. Hasil ini memastikan langkah mereka ke babak 16 besar Liga Eropa.

Bagi Fenerbahce, laga ini menjadi kisah pahit. Dua gol Akturkoglu yang seharusnya menjadi momentum besar, ternyata tak cukup untuk membalikkan keadaan. Mereka harus pulang dengan kepala tertunduk, meski sempat membuat Nottingham Forest berada di ambang kegugupan.

Sementara itu, bagi Nottingham Forest, malam di City Ground menjadi bukti ketangguhan mental. Meski sempat tertekan, mereka mampu bangkit dan memastikan tiket ke babak 16 besar. Liga Eropa kembali menunjukkan pesonanya: drama, ketegangan, dan kebangkitan yang membuat sepak bola selalu layak disebut sebagai panggung emosi terbesar. (S_267)




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...