Langsung ke konten utama

Liga Eropa Leg Kedua: VfB dan Ferencvaros Lolos ke Babak 16 Besar

 

MENJUAL HARAPAN - Pertandingan leg kedua Liga Eropa 2025-2026 antara VfB dan Celtic menghadirkan drama sejak detik pertama. Baru saja peluit dibunyikan, Luke McCowan langsung mencetak gol cepat pada menit pertama. Tendangan kerasnya membuat stadion terdiam sejenak, sementara para pendukung Celtic bersorak penuh harapan. Seolah laga ini akan menjadi titik balik bagi tim asal Skotlandia.

Akan tetapi, meski Celtic unggul 1-0 di laga tersebut, bayangan agregat tetap menghantui. VfB yang sudah mengantongi keunggulan dari leg pertama tampil tenang, tidak panik meski kebobolan cepat. Mereka tahu, tugas utama bukanlah mengejar skor di pertandingan ini, melainkan menjaga margin agregat yang sudah mereka miliki.

Celtic mencoba menekan sepanjang babak pertama. Serangan demi serangan digulirkan, berharap bisa menambah gol dan membuka peluang lolos. Tetapi pertahanan VfB tampil disiplin, menutup ruang, dan menjaga ritme permainan. Setiap upaya Celtic seakan terhenti di tembok kokoh yang dibangun tuan rumah.

Babak kedua berjalan dengan intensitas tinggi. Celtic semakin agresif, sementara VfB memilih strategi menunggu dan sesekali melancarkan serangan balik. Publik tuan rumah sempat tegang, namun waktu terus bergulir tanpa tambahan gol. Celtic akhirnya harus menerima kenyataan: kemenangan tipis 1-0 tidak cukup untuk menyingkirkan VfB.

Agregat 4-2 menjadi penentu. VfB melenggang ke babak 16 besar dengan senyum puas, sementara Celtic harus pulang dengan rasa pahit. Gol cepat McCowan yang sempat memberi harapan, pada akhirnya hanya menjadi catatan indah yang tak mampu mengubah nasib tim.

Di laga lain, Ferencvaros menghadapi Ludogorets dengan determinasi tinggi. Bermain di hadapan publik sendiri, mereka langsung menekan sejak awal. Hasilnya, Gabi Kanichowsky mencetak gol pada menit ke-14, membuka jalan bagi kemenangan. Kristoffer Zacharassen kemudian menambah gol pada menit ke-30, membuat skor 2-0 semakin kokoh.

Dengan hasil tersebut, Ferencvaros memastikan tiket ke babak 16 besar berkat agregat 3-2. Dua gol di kandang menjadi penegasan bahwa mereka layak melanjutkan perjalanan di Liga Eropa. Malam itu, sorak sorai penonton di stadion Ferencvaros menjadi saksi bagaimana semangat dan determinasi mampu mengubah jalannya kompetisi. (S_267)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...