Langsung ke konten utama

Prancis Hanya Mampu Cetak Gol Lewat Penalti, Melaju ke Babak Perempat Final

MENJUAL HARAPAN - Babak 16 besar Piala Dunia 2026, Paraguay versus Prancis yang berlangsung tanding digelar di Stadion Philadelphia, Minggu dini hari WIB (5/7/2026). Dan Prancis hanya mampu mencetak gol lewat tendangan penalty Kylian Mbappe pada menit ke-70.

Memang, secara statistic timnas Prancis sejak kickoff babak pertama menguasasi permainan, dan aksi-aksi serangannya ke pertahanan Paraguay. Namun aksi serangan dan tekananan tidak mampu menembus pertahanan dan mengancam gawang kiper Paraguay.

Hadangan demi hadangan para pemain Paraguay atas tekanan pemain Prancis, membuat Prancis makin frustasi dimana serangannya acapkali gagal tembus tembok pertahanan Paraguay.

Paraguay sendiri tidak lepas memberikan ancaman terhadap pertahanan Prancis, kendati tidak membuahkan gol.

Silih berganti aksi-aksi serangan yang diperagakan kedua timnas ini, hingga turun minum tidak ada gol yang terjadi.

Ikuti berita lainnya


Usai jeda, dan memasuki babak kedua, kedua tim berusaha bangkit untuk memenangkan pertandingan babak 16 besar ini, dan meraih tiket melaju ke babak perempat final Piala Dunia FIFA 2026.

Seiring jalannya waktu babak kedua, petaka menimpa timnas Paraguay dimana dikenai hukuman penalti usai pemainnya melakukan pelanggaran di kotak penalti. Prancis mendapat hadiah penalti pada menit ke-70, dan dieksekusi dengan baik oleh Kylian Mbappe.

Pertandingan berakhir dengan kemenangan Prancis 1-0 dari Paraguay, dan melenggang ke babak perempat final. (S_267) 

Baca juga:

Babak 16 Besar Piala Dunia 2026: Kanada Tersingkir Babak Perempat Final Usai Digunduli Maroko 

Di Perempat Final AJC 2026: Sektor Ganda Putri Indonesia Habis Tak Tersisa 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...