Langsung ke konten utama

Langkah Awal Meykinkan: Ana/Trias Lolos dari Hadangan Chinese Taipei, Siap Tantang Raksasa China


Febriana Dwipuji Kusuma/Meilysa Trias Puspitasari (Dok pbsi.id)

MENJUAL HARAPAN — Start mulus berhasil dicatatkan oleh ganda putri Indonesia, Febriana Dwipuji Kusuma/Meilysa Trias Puspitasari. Tampil di babak 32 besar pada Selasa (14/7/2026), pasangan yang akrab disapa Ana/Trias ini sukses menjinakkan wakil Chinese Taipei, Chang Ching Hui/Yang Ching Tun, lewat kemenangan meyakinkan dua gim langsung 21-16, 21-8.

Kejelian Taktis Mengatasi Faktor Angin

Ana/Trias sempat kesulitan di awal gim pertama karena terbawa oleh arus permainan cepat yang dikembangkan Chang/Yang. Ditambah lagi, kondisi embusan angin di dalam lapangan membuat laju shuttlecock menjadi lebih kencang dibanding saat sesi latihan sehari sebelumnya.

Namun, kematangan strategi Ana/Trias berbicara setelah interval gim pertama. Mereka merombak tempo permainan dan sukses mengantisipasi bola-bola panjang lawan untuk mendominasi total hingga akhir gim kedua.

“Alhamdulillah hari ini berjalan dengan baik, diberikan kemenangan tanpa cedera. Tadi di awal gim pertama, kami masih bermain dengan mengikuti pola lawan,” aku Trias mengevaluasi pertandingan.

Febriana menambahkan detail perubahan taktik mereka di lapangan: “Setelah interval gim pertama kami mengubah pola, mengubah tempo dengan tidak mengikuti pola mereka. Itu cukup berhasil dan kami lanjutkan di gim kedua. Lawan yang banyak bermain panjang bisa kami antisipasi. Dibandingkan kemarin memang kondisi lapangan agak berbeda. Laju shuttlecock agak kencang, mungkin karena hari ini terasa ada hembusan angin.”

Ujian Berat di Babak 16 Besar

Modal tren positif dari rentetan hasil bagus di Indonesia Open dan Australian Open sebelumnya menjadi bahan bakar Ana/Trias untuk menjaga konsistensi mereka. Target besar pun langsung membentang di babak 16 besar, di mana mereka dijadwalkan menantang salah satu ganda putri terbaik dunia asal China, Liu Sheng Shu/Tan Ning.

“Setelah hasil yang cukup bagus di Indonesia Open dan Australian Open, kami tentunya ingin terus memberikan yang terbaik,” tegas Ana. Menatap laga berat lusa, Trias menambahkan, “Lusa kami melawan Liu Sheng Shu/Tan Ning (China), kami ingin main bagus. Harus fokus dari awal pertandingan.”

Daftar Skuad Indonesia di Japan Open 2026

  •  Tunggal Putra: Jonatan Christie, Alwi Farhan, Moh Zaki Ubaidillah
  • Tunggal Putri: Putri Kusuma Wardani
  • Ganda Putra: Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri, Sabar Karyaman Gutama/Moh Reza Pahlevi Isfahani, Raymond Indra/Nikolaus Joaquin
  • Ganda Putri: Febriana Dwipuji Kusuma/Meilysa Trias Puspitasari, Rachel Allessya Rose/Febi Setianingrum, Siti Fadia Silva Ramadhanti/Amallia Cahaya Pratiwi
  • Ganda Campuran: Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah

(*S_267)

Sumber Berita Utama: pbsi.id "Japan Open 2026: Ana/Trias Lolos ke 16 Besar" (diakses, 14/7/2026)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...