Langsung ke konten utama

Ganda Campuran Pincang: Cedera dan Evaluasi Paksa Empat Pasangan Mundur

MENJUAL HARAPAN — Kabar kurang sedap datang dari sektor ganda campuran Indonesia. Manajer tim Indonesia, Shendy Puspa Irawati, mengonfirmasi bahwa pasukan Merah Putih dipastikan tampil tanpa kekuatan penuh setelah empat pasangan terpaksa ditarik mundur dari turnamen ini dengan alasan yang berbeda.

Cedera Engkel dan Masalah Kesiapan Strategis

Pasangan Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu batal merumput akibat cedera pergelangan kaki yang menimpa Felisha saat sesi latihan. Tim medis dan manajemen memutuskan menarik mereka demi memprioritaskan proses pemulihan jangka panjang.

Sementara itu, pasangan Adnan Maulana/Indah Cahya Sari Jamil tidak hanya ditarik dari Japan Open 2026, tetapi juga dari ajang China Open 2026. Langkah tegas ini diambil tim pelatih setelah melihat hasil evaluasi persiapan keduanya yang dinilai belum maksimal.

“Felisha bersama pasangannya Jafar Hidayatullah diputuskan mundur dari Japan Open 2026 karena Felisha mengalami cedera pergelangan kaki pada saat latihan, sehingga dinyatakan belum siap untuk bertanding di Japan Open. Keputusan ini diambil berdasarkan kondisi kesehatan atlet dengan mempertimbangkan aspek pemulihan agar dapat kembali berkompetisi dalam kondisi terbaik,” papar Shendy Puspa Irawati.

“Untuk Adnan/Indah ditarik keikutsertaannya dari Japan Open 2026 dan China Open 2026. Berdasarkan hasil evaluasi tim pelatih persiapan keduanya dinilai belum berjalan secara maksimal untuk tampil di dua turnamen tersebut,” tambah Shendy menjelaskan situasi tim.

Selain kedua pasangan tersebut, duet Rehan Naufal Kusharjanto/Gloria Emanuelle Widjaja serta Bobby Setiabudi/Melati Daeva Oktavianti juga dipastikan batal tampil. Dengan kondisi ini, beban berat sektor ganda campuran kini sepenuhnya bertumpu pada pundak pasangan Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah sebagai satu-satunya wakil Indonesia yang tersisa.

Berikut daftar lengkap pemain Indonesia yang akan berlaga di Japan Open 2026.

Tunggal Putra:

1. Jonatan Christie

2. Alwi FarhanMoh Zaki Ubaidillah

 Tunggal Putri:

1. Putri Kusuma Wardani

Ganda Putra:

1.       Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri

2.      Sabar Karyaman Gutama/Moh Reza Pahlevi Isfahani

3.      Raymond Indra/Nikolaus Joaquin

Ganda Putri:

1. Rachel Allessya Rose/Febi Setianingrum

2. Febriana Dwipuji Kusuma/Meilysa Trias Puspitasari

3. Siti Fadia Silva Ramadhanti/Amallia Cahaya Pratiwi

Ganda Campuran:

1. Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah

(*S_267)

Sumber Berita utama: pbsi.id "Jelang Japan Open 2026: Ubed Tak Sabar hadapi Deut, Ganda Campuran Tak turun dengan Kekuatan Peneuh" (diakses, 14/7/2026)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...