Langsung ke konten utama

Ketika Rupiah Menjadi Bayangan Dolar

MENJUAL HARAPAN - Pada suatu senja yang tampak lebih tua dari biasanya, seorang penukar uang bernama Wira duduk di depan kios kecilnya di tepi alun-alun. Di atas papan elektronik yang menggantung miring, angka merah menyala seperti luka yang belum mengering: Rp17.896 untuk satu dolar. Orang-orang berlalu-lalang di depannya, tetapi tak seorang pun benar-benar berjalan; mereka seolah sedang diseret oleh angka itu menuju suatu tempat yang tak mereka kenal.

Wira memperhatikan wajah-wajah yang datang silih berganti. Seorang ibu menggenggam daftar belanja yang semakin pendek setiap pekan. Seorang mahasiswa menghitung sisa uang kuliahnya dengan jari gemetar. Seorang pedagang menatap layar ponselnya seperti menatap surat kematian. Mereka semua membawa cerita yang berbeda, tetapi memiliki musuh yang sama: angka yang terus tumbuh tanpa pernah kenyang.

Di tengah kota itu berdiri sebuah menara tinggi bernama Menara Dolar. Tidak ada yang tahu kapan ia dibangun. Sebagian orang percaya menara itu muncul dari dasar bumi, tumbuh sedikit demi sedikit setiap kali rakyat kehilangan harapan. Anehnya, semakin tinggi menara itu menjulang, semakin pendek bayangan rakyat di bawahnya.

Di kaki menara tinggal seekor burung Garuda tua. Sayapnya masih lebar, tetapi bulunya mulai rontok. Dahulu ia terbang mengitari seluruh negeri, membawa kabar panen, perdagangan, dan kemakmuran. Kini ia lebih sering diam, memandang langit yang perlahan berubah warna menjadi hijau pucat, warna yang sama dengan lembar-lembar dolar yang beredar seperti daun musim gugur.

Suatu malam Garuda bermimpi bertemu seorang raksasa berkepala angka. Tubuh raksasa itu tersusun dari grafik, statistik, dan laporan ekonomi. Setiap kali ia melangkah, muncul suara mesin hitung yang berdetak seperti jam kematian. “Mengapa kau semakin besar?” tanya Garuda.

“Aku tumbuh dari ketakutan,” jawab sang raksasa. “Semakin banyak manusia percaya bahwa nasib mereka ditentukan olehku, semakin tinggi aku menjulang.”

Keesokan harinya kota dilanda kegelisahan. Harga-harga naik seperti balon yang lepas dari genggaman anak kecil. Pedagang menaikkan papan harga sebelum matahari terbit. Buruh menatap upah mereka yang tetap, seperti melihat perahu bocor di tengah laut. Semua orang berbicara tentang angka, tetapi tak seorang pun benar-benar memahami dari mana angka itu memperoleh kekuasaannya.

Di pasar, seorang kakek penjual buku bekas membuka halaman terakhir sebuah buku tua. Di sana tertulis kalimat yang hampir pudar: “Sebuah bangsa runtuh bukan ketika mata uangnya melemah, melainkan ketika rakyatnya berhenti percaya bahwa mereka mampu membangunnya kembali.” Kakek itu membacanya keras-keras, tetapi suara tawar-menawar dan keluhan lebih nyaring daripada kebijaksanaan.

Sementara itu Menara Dolar terus meninggi. Lantainya bertambah setiap hari. Para penguasa kota datang berbondong-bondong untuk mengukur ketinggiannya. Mereka sibuk berdebat tentang angka, membuat pidato, menyusun laporan, dan saling menyalahkan arah angin. Namun tak satu pun dari mereka memperhatikan fondasi menara yang sesungguhnya: ketergantungan yang telah dipelihara terlalu lama.

Garuda tua akhirnya memutuskan terbang lagi. Dengan tenaga yang tersisa, ia mengelilingi negeri. Ia melihat sawah yang berubah menjadi gudang impor, bengkel yang tutup karena bahan baku mahal, dan anak-anak muda yang lebih mengenal harga kurs daripada harga hasil bumi negerinya sendiri. Di mana-mana ia menemukan kenyataan yang sama: negeri itu perlahan lupa cara berdiri di atas kakinya sendiri.

Dalam penerbangannya, Garuda bertemu para burung kecil. Mereka bukan burung yang kuat, tetapi mereka rajin membangun sarang dari ranting-ranting yang tersedia. Ada yang menanam, ada yang mencipta, ada yang memperbaiki mesin, ada yang membuka usaha kecil. Mereka tidak memiliki sayap sebesar Garuda, namun mereka tetap bekerja meski langit tampak muram.

“Apakah kalian tidak takut pada menara itu?” tanya Garuda.

“Kami takut,” jawab mereka. “Tetapi jika seluruh hidup dihabiskan untuk menatap menara, siapa yang akan membangun tanah di bawahnya?”

Jawaban itu menghantam Garuda lebih keras daripada badai. Ia sadar bahwa selama ini seluruh kota terhipnotis oleh ketinggian menara, sementara kekuatan yang sesungguhnya berada di tanah: pada tangan-tangan yang bekerja, pada pikiran yang mencipta, dan pada keberanian untuk tidak menyerahkan nasib kepada angka semata.

Malam berikutnya, sesuatu yang aneh terjadi. Menara Dolar masih berdiri tegak, bahkan mungkin lebih tinggi dari sebelumnya. Namun untuk pertama kalinya bayangannya tampak sedikit memendek. Bukan karena menara itu menyusut, melainkan karena ribuan lampu mulai menyala di seluruh negeri. Lampu bengkel, lampu pabrik kecil, lampu warung, lampu ruang belajar, dan lampu-lampu harapan yang selama ini redup.

Wira, si penukar uang, kembali memandang papan elektronik di kiosnya. Angka Rp17.896 masih menyala merah. Ia tidak menghilang secara ajaib. Tetapi kali ini Wira melihat sesuatu yang berbeda. Orang-orang yang lewat tidak lagi hanya menatap angka itu dengan putus asa. Sebagian mulai berbicara tentang apa yang bisa mereka bangun, bukan sekadar apa yang telah mereka kehilangan.

Dan di atas langit yang perlahan terang, Garuda tua mengepakkan sayapnya sekali lagi. Ia belum muda, belum kuat, dan belum mampu menjatuhkan menara. Namun ia tahu satu hal: angka dapat menguasai pasar, tetapi hanya manusia yang dapat menentukan arah sebuah bangsa. Selama keyakinan itu masih hidup, tidak ada kurs yang cukup tinggi untuk mengubur masa depan sepenuhnya. (*S_267)

Baca juga:

Ketika Garuda Mencari Lima Bulunya yang Hilang 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

La Liga 2026/2027: Espanyol Kontra Real Madrid Berskor Gol 1-2

MENJUAL HARAPAN - Pertandingan pekan awal La Liga musim 2026/2027 menyajikan duel dramatis di RCDE Stadium . Tuan rumah Espanyol harus merelakan poin terbang di hadapan pendukungnya sendiri setelah ditaklukkan oleh Real Madrid dengan skor tipis 1-2. Laga ini menjadi gambaran klasik bagaimana ketenangan dan pengalaman tim bermental juara mampu membalikkan keadaaan pada detik-detik krusial. Keunggulan Cepat dan Respons Tangguh Tuan Rumah Sejak peluit kick-off dibunyikan, Real Madrid tampil menekan dan mengambil inisiatif serangan secara agresif. Efektivitas serangan tim tamu terbukti ampuh pada menit ke-9. Jude Bellingham memecah kebuntuan lewat sepakan terukur yang membobol gawang Espanyol, mengubah skor menjadi 0-1 untuk Madrid. Tertinggal satu gol tidak membuat Espanyol patah arang. Anak-anak Catalonia berusaha bangkit dengan melancarkan gelombang serangan ke area pertahanan Madrid. Kerja keras tuan rumah membuahkan hasil pada menit ke-30. Menerima celah di lini belakang Madrid, Ál...

Literasi Keuangan Haji: Membentengi Masyarakat dari Narasi Disinformasi

MENJUAL HARAPAN — Di tengah rentannya publik terhadap disinformasi seputar pengelolaan dana haji , edukasi mengenai tata kelola keuangan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) menjadi kebutuhan yang mendesak. Komisi VIII DPR RI menekankan pentingnya pemahaman masyarakat secara utuh mengenai mekanisme kerja BPKH guna menjaga kepercayaan publik terhadap akuntabilitas lembaga tersebut . Pesan tersebut ditegaskan oleh Anggota Komisi VIII DPR RI, Ansari, dalam gelaran Sarasehan Keuangan Haji di Pamekasan, Jawa Timur , Selasa (4/8/2026) . Sebagai lembaga penyeimbang dan mitra kerja BPKH, Komisi VIII mendorong sosialisasi intensif agar masyarakat memahami rantai transparansi pengelolaan dana, mulai dari instrumen investasi hingga sistem pelaporan terbuka yang dapat diakses publik . "Masyarakat perlu mengetahui tugas BPKH, bagaimana dana haji dikelola, sistem pelaporannya, hingga manfaat yang dihasilkan. Selain melalui sosialisasi langsung seperti ini, laporan BPKH juga sangat terbuk...

Tekuk Athletic Bilbao 2-0, Barcelona Mantapkan Posisi di Puncak Klasemen La Liga

MENJUAL HARAPAN — Barcelona melanjutkan tren positif mereka pada jornada kedua La Liga 2026/2027 setelah menundukkan Athletic Bilbao dengan skor 2-0 di Stadion Camp Nou pada Jumat (28/8/2026) dini hari WIB. Dua gol kemenangan Blaugrana masing-masing dilesakkan oleh Raphinha pada babak pertama dan Fermín López menjelang akhir babak kedua. Sejak peluit awal dibunyikan, tuan rumah langsung mengendalikan jalannya laga dan memegang inisiatif serangan. Kendati dominan, Barcelona mendapat perlawanan sengit dari Bilbao yang tampil disiplin dan sesekali mengancam lini pertahanan tuan rumah melalui skema serangan balik . Kebuntuan akhirnya pecah pada menit ke-37. Berawal dari skema serangan yang rapi, Raphinha melepaskan tembakan menusuk yang gagal dihalau kiper Bilbao, mengubah papan skor menjadi 1-0 hingga babak pertama usai. Memasuki babak kedua, Blaugrana kian gencar melancarkan gelombang serangan untuk menambah keunggulan. Bilbao yang berupaya mengejar ketertinggalan terus berusaha ...