Langsung ke konten utama

Sukses Lewati Fase Krusial Armuzna, Timwas Haji DPR Ingatkan PPIH Jaga Stamina Pelayanan hingga Pemulangan


MENJUAL HARAPAN – Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI memberikan apresiasi tinggi kepada Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) atas keberhasilan mengelola puncak ibadah haji 1447 H/2026 M. Fase krusial di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) dinilai berjalan jauh lebih tertib, lancar, dan mengalami peningkatan signifikan dibandingkan dengan penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya.

Kendati masa-masa paling kritis di Armuzna telah berhasil dilalui dengan baik berkat kerja keras pemerintah dan kesigapan petugas di lapangan , Timwas Haji mengingatkan bahwa perjuangan belum usai.

Anggota Timwas Haji DPR RI, Danang Wicaksana, menegaskan bahwa Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) tidak boleh mengendurkan pengawasan maupun kualitas pelayanan. Seluruh elemen petugas diminta untuk tetap menjaga fokus dan stamina hingga jemaah kloter terakhir aman diterbangkan kembali ke Tanah Air.

“Puncak haji memang sudah terlewati, namun pelayanan kepada jemaah harus tetap menjadi prioritas hingga proses pemulangan selesai. Jangan sampai terjadi penurunan kualitas layanan setelah fase Armuzna,” ujar Danang saat diwawancarai Parlementaria di Makkah, Arab Saudi, Sabtu (30/5/2026).

Empat Poin Krusial Pasca-Armuzna yang Wajib Dikawal

Untuk memastikan kenyamanan jemaah tidak melandai pasca-puncak haji, politisi dari Fraksi Partai Gerindra ini menyoroti empat sektor pelayanan publik yang harus tetap diawasi secara ketat:

1. Logistik dan Konsumsi: Kualitas, higienitas, dan ketepatan waktu distribusi katering jemaah—baik yang berada di Makkah maupun yang bergeser ke Madinah—harus terus dipantau agar tidak ada penurunan standar menu.

2. Kenyamanan Pemondokan: Fasilitas akomodasi hotel atau maktab harus tetap dipastikan berfungsi optimal demi menjaga kebugaran jemaah yang mulai kelelahan fisik setelah Armuzna.

3. Mobilitas Bus Shalawat: Seiring diaktifkannya kembali operasional bus shalawat di Makkah, layanannya harus dipastikan prima guna memfasilitasi pergerakan jemaah yang ingin beribadah ke Masjidil Haram.

4. Manajemen Transportasi Antarkota & Penerbangan: Jadwal perjalanan darat dari Makkah ke Madinah hingga ketepatan waktu (on-time performance) maskapai penerbangan menuju Indonesia wajib mengutamakan faktor keselamatan dan kenyamanan.

Berharap Ending yang Manis bagi Jemaah

Di akhir keterangannya, Timwas Haji DPR RI berharap komitmen dari seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) perhajian ini dapat terus dipertahankan sampai ketukan palu akhir operasional haji 2026.

Target utamanya adalah memastikan seluruh jemaah Indonesia dapat menyelesaikan sisa rangkaian ibadah mereka dengan tenang, lalu pulang ke rumah masing-masing dengan selamat, sehat, serta membawa kenangan spiritual yang mendalam sebagai haji yang mabrur. (S_267)

(Sumber: https://www.dpr.go.id )




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...