Langsung ke konten utama

Cagliari Permalukan AC Milan di San Siro

MENJUAL HARAPAN — Pekan terakhir Serie A musim 2025-2026 berakhir dengan kejutan besar bagi publik San Siro. AC Milan, yang di atas kertas lebih diunggulkan, justru harus menelan pil pahit setelah ditaklukkan oleh tim papan bawah, Cagliari, dengan skor 1-2 pada pertandingan yang digelar di markas besar Rossoneri.

Jalannya Pertandingan: Start Impresif yang Berakhir Anti-Klimaks

Pertandingan dimulai dengan tempo yang sangat menjanjikan bagi tuan rumah. AC Milan bahkan hanya membutuhkan waktu satu menit untuk menggetarkan jala Cagliari.

Alexis Saelemaekers mencatatkan namanya di papan skor saat laga baru berumur 60 detik, sebuah awal yang seharusnya menjadi fondasi kemenangan bagi Milan.

Namun, Cagliari menunjukkan mentalitas yang tidak gentar. Mereka perlahan mampu keluar dari tekanan dan mulai membangun serangan. Hasilnya, pada menit ke-19, Gennaro Borelli berhasil menyamakan kedudukan lewat penyelesaian dingin. Skor 1-1 bertahan hingga turun minum.

Memasuki babak kedua, dinamika permainan berubah drastis. Cagliari justru tampil lebih dominan, memberikan tekanan konstan yang membuat lini pertahanan AC Milan tampak kewalahan.

Ketegangan di kubu tuan rumah memuncak pada menit ke-56 ketika Juan Rodrigues melepaskan tembakan yang berbuah gol kedua bagi tim tamu.

AC Milan yang berusaha mengejar ketertinggalan gagal memecah kebuntuan hingga peluit panjang dibunyikan. Skor 1-2 untuk keunggulan Cagliari bertahan, memberikan kemenangan dramatis bagi tim tamu di laga pamungkas musim ini.

Dampak Klasemen: Penutup yang Kontras

Hasil akhir ini menempatkan kedua tim pada posisi yang cukup kontras di akhir musim:

AC Milan: Harus puas menutup musim di posisi ke-5 dengan koleksi 70 poin.

Cagliari: Mengakhiri musim di urutan ke-14 dengan total 43 poin, sebuah kemenangan yang sangat berharga untuk memperbaiki posisi mereka di papan bawah.

Krisis Fokus di Laga Penutup

Laga ini kembali menjadi bukti bahwa di Serie A, tidak ada tim yang bisa dipandang sebelah mata. Keunggulan cepat di menit pertama seharusnya bisa dimanfaatkan Milan untuk mengontrol tempo permainan. Namun, alih-alih menguasai keadaan, Milan justru membiarkan Cagliari mendikte ritme permainan di babak kedua.

Ketidakmampuan lini tengah Milan untuk meredam aliran bola Cagliari, ditambah dengan ketenangan tim tamu dalam memanfaatkan peluang, menjadi pembeda utama dalam pertandingan ini.

Bagi Milan, kekalahan di kandang sendiri pada pekan penutup adalah catatan merah yang harus segera dievaluasi oleh jajaran manajemen, terutama mengenai konsistensi mental pemain saat menghadapi tim dengan motivasi bertahan hidup yang tinggi.

Cagliari, di sisi lain, pantas mendapatkan apresiasi tinggi. Mereka membuktikan bahwa dengan disiplin dan keinginan menang, tim yang berada di papan bawah tetap memiliki taring untuk menaklukkan raksasa di rumahnya sendiri. (S_267)

Baca juga:

Derby della Mole Berakhir Dramatis: Torino Paksa Juventus Berbagi Angka di Laga Penutup 

Penutup Premier League: Arsenal Amankan Poin Penuh, Liverpool dan Nottingham Tertahan 

West Ham Tutup Tirai dengan Kemenangan, Burnley-Wolves Berbagi Angka 

Sunderland Bungkam Chelsea di Pekan Penutup 2025-2026 

Derby Jatim: Persebaya Pesta Gol 5-0, Persik Kediri Merana di GBT 

Mengamuk di Segiri, Borneo FC Lumat Malut United 7-1, dan Harus Puas Jadi Runner-Up 

Kedigdayaan Maung Bandung: Dinasti Baru Sepak Bola Indonesia 

Fiorentina Berbagi Poin dengan Atalanta 

Tandang Pekan Pamungkas, Bali United Taklukkan Taun Rumah Dewa United

Pekan Pamungkas Super League: Arema FC Cetak Gol Tercepat dan Bungkan PSIM  



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...