Langsung ke konten utama

Pekan Pamungkas Super League: Arema FC Cetak Gol Tercepat dan Bungkan PSIM

MENJUAL HARAPAN - Laga pamungkas BRI Super League 2025-2026, Arema FC kontra PSIM Yogyakarta yang berlangsung digelar di Stadion Kanjuruhan Malang pada Jumat sore (22/5/2026).

Arema FC pada pekan pamungkas ini menutup dengan kemenangan 3-1 atas lawannya PSIM Yogyakarta.

Gol pembuka dan tercepat terjadi di menit ke-2 yang ditusukan pemain Arema FC yaitu Joel Vinicius ke gawang kiper PSIM.

Sedangakan dua gol berikutnya terjadi di babak kedua, yaitu menit ke-48 memalui tendangan Dalberto, dan gol Valdeci di menit ke-88.

PSIM Yogyakarta sempat membalasnya pada menit ke-52 melalui tendangan Deri Corfe, akan tetapi setelah skor gol 2-1, PSIM tidak berhasil menyamakan gol, justru malah kebobolan kembali di menit ke-88.

Duel yang sengit dan seru kedua kesebelasan ini, terjadi saling menekan pertahanan lawannya, bahkan pada babak pertama tuan rumah sendiri Arema FC hanya mampu bertahan satu gol hingga turun minum.

Selanjutnya, pada babak kedua, tuan rumah kembali lebih cepat cetak gol di menit ke-48, kendati pada menit 52 terbalas oleh PSIM.

Namun, PSIM harus kembali kebobolan gawangnya di menit ke-88 sehingga tertinggal kembali menjadi 1-3, dan kedudukan gol ini tidak alami perubahan lagi hingga pertandingan usai.

Hasil tiga poin untuk Arema FC ini, Arema FC menutup musim Super League 2025-2026 dengan kemenangan, dan beradadi posisi ke-9 dengan mengoleksi 48 poin, sedangkan PSIM Yogyakarta berada di posisi ke-11 dengan mengoleksi 45 poin.

Susunan Pemain

Arema FC

Adi Satryo; Rio Fahmi, Walisson Maia, Betinho, Julian Guevara, Johan Alfarizi, Dalberto, Matheus Blade, Arkhan Fikri, Gabriel Silva, Joel Vinicius;

Pelatih: Marcos Santos

 

PSIM Yogyakarta

Cahya Supriadi; Rio Hardiawan, Franco Ramos, Jop van den Avert, Yusaku Yamadera, Ze Valente, Ghulam Fatkur, Ezequiel Vidal, Savio Sheva, Riyatno Abiyoso, Deri Corfe;

Pelatih: Jean-Paul van Gastel

(S_267)

Baca juga:

Malam Emas di Riyadh: Sihir Mahkota King Ronaldo dan Pesta Sempurna Al Nassr




  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...