Langsung ke konten utama

86.118 Pendaftar KIP Kuliah Lulus SNBT 2026, Berikut Daftar PTN dengan Penerima Terbanyak

JAKARTA, MENJUAL HARAPAN – Sebanyak 86.118 pendaftar Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah dinyatakan lolos Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) tahun 2026. Pengumuman tersebut disampaikan oleh Plt. Kepala Pusat Pembiayaan dan Asesmen Pendidikan Tinggi (PPAPT), Sandro Mihradi, dalam konferensi pers di Gedung Kemdiktisaintek, Jakarta, Senin (25/5/2026).

Status Eligibilitas Penerima

Dari total jumlah tersebut, Sandro menjelaskan bahwa baru 39.662 peserta yang ditetapkan eligible atau memenuhi syarat sebagai calon penerima KIP Kuliah. Sisanya, sebanyak 46.456 peserta dinyatakan belum memenuhi kriteria (non-eligible).

"Dari 46.456 ini, ada 2.656 peserta yang belum terdata dalam desil sama sekali. Ini bukan kesalahan mereka," ujar Sandro. Pihak perguruan tinggi nantinya akan melakukan verifikasi dan validasi terhadap peserta tersebut untuk menentukan kelayakan mereka sebagai penerima KIP Kuliah.

Penetapan eligibilitas tahun ini mengacu pada Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2025 tentang Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DataSain) serta Peraturan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Nomor 2 Tahun 2026. Bantuan ini ditujukan bagi masyarakat dengan kategori kesejahteraan sangat miskin hingga rentan miskin, atau setara dengan desil 1 hingga 4 dalam DataSain.

Sebaran Penerima dan Dukungan Pendidikan

Distribusi peserta eligible per desil tercatat cukup merata, yakni berkisar antara 24 hingga 26 persen. Selain itu, sekitar 60 persen dari peserta yang dinyatakan eligible merupakan penerima Program Indonesia Pintar (PIP) jenjang SMA sebelumnya.

Bagi peserta yang lolos SNBT namun belum masuk kategori eligible KIP Kuliah, Kementerian mendorong perguruan tinggi untuk memberikan akses pendidikan melalui skema lain. "Kami mendorong perguruan tinggi untuk bisa menetapkan kategori UKT 1 atau UKT 2 dan mengupayakan beasiswa lainnya," kata Sandro. Saat ini, kementerian juga tengah menjajaki kerja sama dengan mitra eksternal untuk menyediakan beasiswa alternatif.

20 PTN dengan Penerima KIP Kuliah Terbanyak (SNBT 2026)

Berikut adalah daftar perguruan tinggi dengan jumlah mahasiswa eligible KIP Kuliah terbanyak:

Kategori

Perguruan Tinggi

Jumlah Diterima

PTN Akademik

Universitas Negeri Surabaya

3.107

 

Universitas Negeri Medan

3.060

 

Universitas Negeri Padang

2.705

 

Universitas Negeri Makassar

2.576

 

Universitas Negeri Lampung

2.209

 

Universitas Nusa Cendana

1.959

 

Universitas Tadulako

1.946

 

Universitas Negeri Malang

1.905

 

Universitas Pendidikan Indonesia

1.887

 

Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

1.736

PTN Vokasi

Politeknik Negeri Lampung

1.028

 

Politeknik Negeri Jember

927

 

Politeknik Negeri Malang

759

 

Politeknik Negeri Kupang

690

 

Politeknik Negeri Sriwijaya

630

 

Politeknik Negeri Medan

558

 

Politeknik Negeri Padang

506

 

Politeknik Negeri Lhokseumawe

496

 

Politeknik Negeri Pontianak

477

 

Politeknik Negeri Samarinda

381

Sumber: Data Pusat Pembiayaan dan Asesmen Pendidikan Tinggi (2026) .

(Sjs_267)

Baca juga:

Cagliari Permalukan AC Milan di San Siro 

Derby della Mole Berakhir Dramatis: Torino Paksa Juventus Berbagi Angka di Laga Penutup 

Penutup Premier League: Arsenal Amankan Poin Penuh, Liverpool dan Nottingham Tertahan 

West Ham Tutup Tirai dengan Kemenangan, Burnley-Wolves Berbagi Angka 

Sunderland Bungkam Chelsea di Pekan Penutup 2025-2026 

Derby Jatim: Persebaya Pesta Gol 5-0, Persik Kediri Merana di GBT 

Mengamuk di Segiri, Borneo FC Lumat Malut United 7-1, dan Harus Puas Jadi Runner-Up 

Kedigdayaan Maung Bandung: Dinasti Baru Sepak Bola Indonesia 

Fiorentina Berbagi Poin dengan Atalanta 

Tandang Pekan Pamungkas, Bali United Taklukkan Taun Rumah Dewa United 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...