Langsung ke konten utama

Playoff ke-2 Liga Champions, Inter Milan Gagal, Bodo/Glimt Lolos ke Babak 16 Besar

MENJUAL HARAPAN - Play off kedua UEFA Champions League 2025-2026, Inter Milan berhadapan dengan Bodo/Glimt berlangsung digelar di San Siro, Rabu dini hari WIB (25/2/2026).

San Siro menjadi saksi bisu kekalahan Inter Milan dan juga gagal lolos ke babak 16 besar Liga Champions.

Duel Inter versus Bodo/Glimt ini berjalan cukup sengit, utamanya tuan rumah Inter Milan harus menang mutlak jika ingin raih tiket lolos ke babak 16 besar, karena pada putaran pertama di kandang Bodo/Glimt, derita kekalahan juga.

Dua gol Bodo/Glimt dicetak pada menit ke-58 oleh Jens Petter Hauge, dan menit ke-72 Hakon Evjen. Sedangkan satu gol balasan tuan rumah Inter Milan dicetak pada menit ke-76 oleh Alessandro Bastoni.

Inter Milan 1-2 Bodo/Glimt (agregat 2-5), Inter Milan gagal raih tiket lolos ke babak 16 besar Liga Champions, dan Bodo/Glimt sukses meriah tiket lolos ke babak 16 UEFA Champions League 2025-2026.

Kemudian, tiga pertandingan lainnya pada putaran kedua bababk playoff 16 besar Liga Champions yang juga digelar di Rabu dini hari WIB (24/2/2026) adalah Leverkusen versus Olympiakos, Newcastle versus Qarabag, dan Atletico Madrid berhadapan dengan Club Brugge.

Bayer Leverkusen kontra Olympiako tanpa gol, namun Leverkusen lolos ke babak 16 besar Liga Champions dengan agregat 2-0. selain itu, Newcastle versus Qrabag dengan skor gol akhir 3-2 dan Newcastle lolos ke babak 16 besar dengan miliki agregat 9-3.

Selanjutnya Atletico madrid versus Club Brugge berakhir dengan skor gol 4-1, dan agregat 7-4, Atletico Madrid raih tiket lolos ke babak 16 besar UEFA Champions League. (S_267)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...