Langsung ke konten utama

Hamburger Vs Augsburg 1-1, dan Bremen Alami Kekalahan Lawan Leipzig

MENJUAL HARAPAN -Hamburger tertinggal lebih dahulu, namun akhirnya berhasil menyamakan kedudukan gol menjadi 1-1.

Bermain di markas sendiri, Volksparkstadion, Hamburg, Hamburger versus Augsburg.

Gol Augsburg terjadi di menit ke-22 yang dicetak lewat tendangan Arthur Chaves, sementara gol balasan tuan rumah Hamburger terjadi dimenit ke-60 melalui tendangan Ransford Yeboah Koningsdorffer.

Hasil berbagi poin ini, Hamburger berada di posisi ke-11 dengan 31 poin, sementara Augsburg berada di atasnya urutan ke-10 dengan 32 poin klasemen Liga Jerman 2025-2026 pekan ke-28.

BACA JUGA: Hoffenheim Dikalahkan Mainz 05 di Pekan ke-28

Kemudian, pada pertandingan lainnya yaitu Bremen versus Leipzig yang berlangsung diselenggarakan di Weserstadion, Bremen, Sabtu dini hari WIB (4/4/2026).

Bremen alami kekalahan 1-2 lawan Leipzig. Dua gol yang menjadi kemenangan Leipzig terjadi di menit ke-15 lewat tendangan keras Antonio Nusa, dan menit ke-52 yang dicetak oleh Romulo Cardoso.

Sedangkan satu gol balasan Bremen terjadi di waktu tambahan menit ke-90+4 lewat tendangan Salim Musah.

Baca juga: Monchengladbach Akhirnya Berhasil Menyamakan Gol Lawan Heidenheim

Bremen dari pekan ini tanpa poin, berada di posisi ke-14 dengan 28 poin, sedangkan Leipzig berada di posisi ke-3 dengan mengoleksi 53 poin klasemen Liga Jerman pekan ini. (S_267)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...