Langsung ke konten utama

Monchengladbach Akhirnya Berhasil Menyamakan Gol Lawan Heidenheim


MENJUAL HARAPAN Monchengladbach pada laga pekan ke-28 Bundesliga 2025-2026, menjamu Heidenheim, dan pertandingan berlangsung digelar di Borussia-Park, Monchengladbach, Sabtu dini hari WIB (4/4/2026).

Tuan rumah Monchengladbach langsung menekan pertahanan Heidenheim, dan pada menit ke-16 berhasil membobol gawang kiper Heidenheim.

Gol Monchengladbach dicetak oleh Wael Mohya, akan tetapi berselang dalam beberapa menitk, tepatnya menit ke-26, Heidenheim berhasil membalasnya yang dicetak oleh Patrick Mainka.

Kedudukan menjadi sama 1-1, kedua tim terus saling menyarang pertahanan lawannya, namun hingga babak pertama berakhir, kedudukan masih tetap, tidak ada perubahan lagi.

Usai jeda, tuan rumah Monchengladbach berusaha bangkit inisiatif melakukan serangan lebih dahulu, akan tetapi serangannya buntu. Sementara para pemain Heidenheim juga melakukan manuver serangan balik yang membuat repot pemain belakang tuan rumah.

Bertubi-tubi tekanan pemain Heidenheim ke pertahanan Monchengladbach, akahirnya bobol juga gawang kiper tuan rumah pada menit ke-64.

Gol kedua Heidenheim dicetak oleh Marnon-Thomas Busch, dan sementara Heidenheim unggul 2-1 atas Monchengladbach.

Monchengladbach tertinggal gol 1-2 dari Heidenheim, kembali meningkatkan volume serangannya ke pertahanan, dan usahanya akhirnya sepuluh menit kemudian (74’) berhasil menggetarkan gawang kiper Heidenheim.

Gol balasan Monchengladbach ini dicetak oleh Franck Honorat.

Kedudukan kembali sama menjadi 2-2, atmosfer duel juga makin sengit dengan saling menekan untuk berusaha memenangkan pertandingan pekan ini.

Akan tetapi, waktu pertandingan detik-detik berakhir tidak terjadi lagi perubahan gol, alias kedudukan hingga pertanidngan berakhir sama 2-2.

Hasil berbagi poin ini, Monchengladbach berada di urutan ke-13 dengan mengoleksi 30 poin, sedangkan Heidenheim sendiri berada di zona degradasi yang hanya mengumpulkan 16 poin klasemen Liga Jerman pekan kedua puluh delapan. (S_267) 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...