Langsung ke konten utama

Hoffenheim Dikalahkan Mainz 05 di Pekan ke-28

 

MENJUAL HARAPAN - Bertanding di markas sendiri, Hoffenheim berhadapan dengan Mainz 05, dan derita kekalahan dengan skor gol akhir 1-2.

Duel kedua kesebelasan berlangsung di PreZero Arena, Sinsheim, Sabtu dini hari WIB (4/4/2026).

Tuan rumah Hoffenheim kebobolan lebih dahulu pada menit ke-13. Dan gol pembuka Mainz 05 dicetak oleh Philip Tietz.

Kemudian, tuan rumah Hoffenheim berhasil membalasnya pada menit ke-23 lewat tendangan Fisnk Asllani.

Kedudukan sama 1-1 ini akselerasi serangan yang diperagakan kedua tim makin masif, kendati hingga pertandingan babak pertama berakhir, kedudukan gol masih sama.

BACA JUGA: Monchengladbach Akhirnya Berhasil Menyamakan Gol Lawan Heidenheim

Usai turun minum, kedua tim berusaha bangkit untuk memenangkan laga pekan ke-28 Liga Jerman 2025-2026 ini.

Serangan demi serangan yang dijalankan kedua kesebelasan terus berlangsung menekan pertahanan lawannya.

Babak kedua sudah berjalan paruh waktu pertanidngannya, akan tetapi masih belum juga terjadi gol kembali.

Memang, tidak terhindar juga serangan demi serangan pemain Mainz 05, makin meningkat menekan pertahanan Hofenheim, dan kahirnya gawang kiper Hoffenheim bobol di menit ke-79 lewat tendangan Philip Teitz.

Mainz 05 kembali unggul 2-1 atas tuan rumah, dan keunggulannya tidak terbalas oleh Hoffenheim hingga pertandingan berakhir.

Hoffenheim kehilangan poin pada pekan ini, dan kini berada di urutan ke-5 dengan mengoleksi 50 poin, sedangkan dengan nambah tiga poin, Mainz 05 kini berada di urutan ke-9 dengan mengoleksi 33 poin klasemen sementara Bundesliga 2025-2026 pekan kedua puluh delapan. (S_267)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...