Langsung ke konten utama

Ironi Oase Pendidikan Agama: Komisi VIII Bidik Ketimpangan Insentif Rp250 Ribu dan Dikotomi Sisdiknas

MENJUAL HARAPAN — Di balik megahnya narasi pembangunan karakter bangsa, potret buram dunia pendidikan berbasis keagamaan kembali terkuak ke permukaan. Komisi VIII DPR RI mendapati realita miris mengenai jeritan kesejahteraan para guru honorer di lingkungan madrasah dan pondok pesantren yang jauh dari kata layak.

Fakta mencengangkan ini mendorong parlemen untuk mendesak pemerintah melakukan intervensi anggaran besar-besaran demi menghentikan diskriminasi sistemik terhadap pendidik pencetak akhlak tersebut.

Menakar 'Angka Kemiskinan' Pengajar Madrasah di Riau

Seusai memimpin Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VIII DPR RI ke Provinsi Riau, Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Ansory Siregar, membeberkan ketimpangan kuantitas dan kualitas kesejahteraan yang terjadi di lapangan. Berdasarkan data empiris, dari total sekitar 22.000 tenaga pendidik keagamaan di Bumi Lancang Kuning, jurang status kepegawaian terlihat sangat menganga.

  • Aparatur Sipil Negara (PNS): Hanya berkisar 2.000 orang.
  • Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK): Baru menyentuh angka 1.000 orang.
  • Guru Honorer: Sisanya, mayoritas belasan ribu guru, masih menggantungkan nasib pada status honorer.

Lebih tragis lagi jika membedah isi dompet para pahlawan tanpa tanda jasa ini. Guru honorer yang beruntung mengantongi sertifikasi rata-rata menerima Rp2 juta per bulan.

Namun, bagi mereka yang belum tersertifikasi, upah yang diterima dinilai sebagai bentuk penghinaan terhadap profesi guru: hanya Rp250 ribu per bulan. Angka yang bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok sepekan di era sekarang.

Target APBN 2027: Mengatrol Insentif Setengah Hati

Menyikapi kondisi yang dinilai belum mencerminkan keadilan sosial ini, Komisi VIII DPR RI menegaskan akan membawa seluruh aspirasi dari Pemprov Riau, Kanwil Kemenag, hingga perwakilan pesantren ke meja kerja Menteri Agama. Parlemen memasang target konkret pada penyusunan anggaran negara (APBN) tahun 2027.

"Kami mendorong pemerintah agar pada penyusunan anggaran tahun 2027 dapat meningkatkan insentif bagi guru honorer yang belum tersertifikasi menjadi sekitar Rp1 juta hingga Rp1,5 juta per bulan," tegas Ansory Siregar di Pekanbaru.

Bagi parlemen, kenaikan insentif ini merupakan jaring pengaman darurat (safety net) sebelum pemerintah mampu menyerap mereka ke dalam sistem PPPK atau ASN yang lebih permanen.

Membongkar Dikotomi Melalui RUU Sisdiknas

Selain urusan dapur guru yang serba kekurangan, tercatat juga adanya isu yang jauh lebih besar: tata kelola regulasi. Selama ini, ada kesan anak tiri antara pendidikan umum di bawah Kemendikbudristek dengan pendidikan agama di bawah Kemenag.

Oleh karena itu, Komisi VIII DPR RI kini tengah memasang barikade pada pembahasan Rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (RUU Sisdiknas). Tujuannya satu: menghapus sekat dikotomi yang merugikan institusi keagamaan.

"Dalam RUU Sisdiknas yang sedang dibahas, kami berharap tidak lagi ada dikotomi antara pendidikan umum dan pendidikan agama. Apa yang diperoleh sekolah umum juga harus dapat dirasakan oleh sekolah agama," pungkas Ansory menutup diplomasinya.

Kini, bola panas berada di tangan pemerintah. Akankah anggaran kemanusiaan untuk guru agama ini disetujui, ataukah manifesto kesejahteraan ini kembali menguap di sela-sela angka APBN? (*S_267)

Sumber Utama Berita: dpr.go.id "Ansory Dorong Peningkatan Kesejahteraan Guru Honorer Madrasah dan Pesantren" (diakses, 9/7/2026)


Baca juga:

Diplomasi Kertanegara: Menakar Kedekatan Prabowo, Dinasti Shinawatra, dan Visi Global Danantara 


Info artikel lainnya disini



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengabdi di Cangkuang, Mahasiswa Universitas Nurtanio Akselerasi Program "Desa Cerdas dan Masyarakat Berdaya"

  Sekdes Cangkuang, dalam memberikan sambutan penerimaan KKNMT Universitas Unnur Bandung dan didampingi Dosen Pembimbing Lapangan (kiri), Selasa, 28/7/2026 BANDUNG, MENJUAL HARAPAN  – Dalam upaya mereduksi kesenjangan teknologi serta mendorong kemandirian masyarakat perdesaan, mahasiswa Universitas Nurtanio (Unnur) menggelar program Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa Terintegrasi (KKNMT) 2026 di Desa Cangkuang, Kecamatan Cangkuang, Kabupaten Bandung. Mengusung tema besar "Desa Cerdas, Masyarakat Berdaya: Digitalisasi, Literasi Menuju Desa Mandiri Berkelanjutan" , kehadiran puluhan mahasiswa berjaket almamater biru ini disambut hangat oleh pemerintah desa dan tokoh masyarakat setempat dalam acara pembukaan dan sosialisasi program yang berlangsung di Aula Desa Cangkuang. Sinergi Mahasiswa KKNMT Universitas Nurtanio 2026 bersama Perangkat Desa dan Warga Cangkuang di Aula Desa Transformasi Digital hingga Pemberdayaan Ekonomi Program KKNMT kali ini berfokus pada penerjemahan konsep ...

Literasi Keuangan Haji: Membentengi Masyarakat dari Narasi Disinformasi

MENJUAL HARAPAN — Di tengah rentannya publik terhadap disinformasi seputar pengelolaan dana haji , edukasi mengenai tata kelola keuangan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) menjadi kebutuhan yang mendesak. Komisi VIII DPR RI menekankan pentingnya pemahaman masyarakat secara utuh mengenai mekanisme kerja BPKH guna menjaga kepercayaan publik terhadap akuntabilitas lembaga tersebut . Pesan tersebut ditegaskan oleh Anggota Komisi VIII DPR RI, Ansari, dalam gelaran Sarasehan Keuangan Haji di Pamekasan, Jawa Timur , Selasa (4/8/2026) . Sebagai lembaga penyeimbang dan mitra kerja BPKH, Komisi VIII mendorong sosialisasi intensif agar masyarakat memahami rantai transparansi pengelolaan dana, mulai dari instrumen investasi hingga sistem pelaporan terbuka yang dapat diakses publik . "Masyarakat perlu mengetahui tugas BPKH, bagaimana dana haji dikelola, sistem pelaporannya, hingga manfaat yang dihasilkan. Selain melalui sosialisasi langsung seperti ini, laporan BPKH juga sangat terbuk...

Estafet Kepemimpinan Bank Indonesia di Tengah Ujian Stabilitas Moneter

Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi menyampaikan keterangan pers di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, pada Senin, 27 Juli 2026. Foto: BPMI Setpres/Kris Transisi kepemimpinan di bank sentral merupakan isu stabilitas makroekonomi, sinyal pasar, dan independensi kelembagaan . MENJUAL HARAPAN – Dinamika penting mewarnai puncak otoritas moneter Indonesia. Pemerintah secara resmi menerima surat pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatannya sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI), menyusul pengabdian selama kurun waktu hampir tujuh tahun dalam menjaga benteng kebijakan moneter nasional . Langkah krusial ini disampaikan langsung oleh Menteri Sekretaris Negara , Prasetyo Hadi, dalam konferensi pers di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Senin (27/7/2026) . Presiden Prabowo Subianto telah menyetujui pengunduran diri tersebut dan menyampaikan apresiasi yang mendalam atas dedikasi Perry selama menahkodai bank sentral melalui berbagai krisis ekonomi global . Pemerintah kini tengah memproses...