Langsung ke konten utama

Haaland Dua Gol, Norwegia Tendang Brasil dari Piala Dunia 2026


Brasil Vs Norwegia 1-2 (Foto hasil tangkapan layar dari TVRI Sport)

MENJUAL HARAPAN — Drama hebat tersaji di Stadion New York New Jersey pada Senin (6/7/2026) dini hari WIB. Tim nasional Brasil secara mengejutkan harus angkat koper lebih awal dari Piala Dunia 2026 setelah ditekuk Norwegia dengan skor tipis 1-2 di babak 16 besar.

Erling Haaland menjadi momok menakutkan bagi lini pertahanan Selecao lewat sepasang golnya di akhir babak kedua. Sementara itu, gol balasan Neymar melalui titik putih di masa injury time tak mampu menyelamatkan Brasil dari nasib tragis.

Awal Petaka: Kegagalan Penalti dan Kebuntuan Babak Pertama

Pertandingan langsung berjalan dengan intensitas tinggi sejak peluit kick-off dibunyikan. Kedua tim memperagakan permainan agresif dan saling jual beli serangan.

Brasil sebenarnya mendapatkan emas untuk unggul lebih dulu pada menit ke-12 setelah wasit menunjuk titik putih. Namun, eksekutor yang ditunjuk gagal menaklukkan ketangguhan penjaga gawang Norwegia. Kegagalan ini seolah menjadi sinyal buruk bagi anak-anak asuh Brasil sepanjang sisa laga.

Meski kedua tim silih berganti mengancam gawang lawan, penyelesaian akhir yang buruk membuat skor kacamata 0-0 bertahan hingga turun minum.

Panggung Sang Monster: Erling Haaland Mengamuk

Memasuki paruh kedua, intensitas pertandingan tidak menurun. Baik Brasil maupun Norwegia mencoba menyegarkan strategi demi memecah kebuntuan. Akan tetapi, memasuki sepertiga akhir pertandingan, Norwegia mulai memegang kendali lewat serangan yang lebih masif dan terstruktur.

Kebuntuan pecah pada menit ke-79. Berawal dari skema serangan yang rapi, Erling Haaland menunjukkan kelasnya sebagai striker kelas dunia. Lewat sundulan cantik yang terukur, bomber Manchester City tersebut sukses merobek jala Brasil. Skor berubah 1-0 untuk Norwegia.

Tertinggal satu gol membuat Brasil keluar menyerang, namun pertahanan disiplin Norwegia justru membuat mereka frustrasi. Memanfaatkan kelengahan lini belakang Brasil yang asyik menyerang, Haaland kembali menghukum Selecao. Tepat pada menit ke-90, Haaland mencetak gol keduanya malam itu, mengubah papan skor menjadi 2-0.

Neymar Memperkecil Asa di Masa Krusial

Di sisa waktu yang sangat tipis, Brasil menolak menyerah. Drama kembali terjadi di masa injury time (90+10') ketika pemain belakang Norwegia melakukan pelanggaran fatal di kotak terlarang.

Penalti untuk Brasil! Neymar yang maju sebagai algojo dengan dingin mengecoh kiper Norwegia. Skor berubah menjadi 1-2.

Sayangnya, gol tersebut datang terlambat. Tak lama setelah selebrasi emosional tersebut, wasit meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan.

Hasil Akhir: Norwegia Cetak Sejarah, Brasil Menangis

Dengan hasil ini, Brasil harus menerima kenyataan pahit menyudahi mimpi mereka di Piala Dunia 2026 lebih cepat.

Sementara bagi Norwegia, kemenangan historis ini mengantarkan Erling Haaland dan kawan-kawan melenggang gagah ke babak perempat final. (S_267)

Baca juga:

Fenomena Penolakan Data, Komisi X DPR Desak Masyarakat Jujur demi Akurasi Sensus Ekonomi 2026



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...