Langsung ke konten utama

Ulasan Serie A Pekan ke-31: Cremonese vs Bologna & Pisa vs Torino

MENJUAL HARAPAN - Pekan ke-31 Serie A musim 2025-2026 menyuguhkan pertandingan Cremonese versus Bologna, dan Pisa melawan Torino.

Cremonese vs Bologna

Pertandingan di Stadion Giovanni Zini, Kremona, langsung diwarnai gol cepat Bologna. Joao Mario membuka keunggulan pada menit ke-2, disusul Jonathan Rowe yang menambah gol di menit ke-16. Start agresif ini membuat Cremonese tertekan sejak awal dan kesulitan mengembangkan permainan.

Meski tertinggal dua gol, Cremonese mencoba membangun serangan melalui kombinasi lini tengah. Namun, rapatnya pertahanan Bologna membuat peluang mereka minim. Baru pada menit ke-90+1, Federico Bonazzoli mampu memperkecil kedudukan lewat eksekusi penalti. Gol ini hanya menjadi hiburan karena waktu tersisa terlalu singkat untuk mengejar.

Baca juga: Lazio Mampu Menyamakan Gol Lawan Parma

Menjelang akhir laga, tensi semakin memanas. Bologna harus kehilangan Lewis Ferguson, sementara Cremonese kehilangan Youssef Maleh setelah keduanya diganjar kartu merah. Situasi ini menambah dramatis jalannya pertandingan, meski tidak mengubah hasil akhir.

Kekalahan ini membuat Cremonese tetap terpuruk di posisi ke-17 dengan 27 poin, semakin dekat dengan zona degradasi. Sebaliknya, Bologna naik ke posisi ke-8 dengan 45 poin, memperkuat ambisi mereka untuk menembus zona kompetisi Eropa.

Pisa vs Torino

Di laga lain, Pisa menjamu Torino di Stadion Romeo Anconetani. Pertandingan berlangsung ketat dengan kedua tim saling menekan. Namun, efektivitas penyelesaian menjadi pembeda. Torino akhirnya mencetak gol tunggal pada menit ke-80 melalui Che Adams.

Meski bermain di kandang, Pisa gagal memanfaatkan dukungan suporter. Serangan mereka sering terhenti di lini tengah, dan peluang yang tercipta tidak cukup tajam. Kekalahan ini semakin menekan posisi Pisa yang kini masuk zona degradasi.

Kemenangan tipis ini menjadi modal berharga bagi Torino. Dengan tambahan tiga poin, mereka naik ke posisi ke-12 dengan 32 poin. Hasil ini menunjukkan konsistensi Torino dalam menjaga performa di paruh akhir musim.

Catatan Pasca Laga
Dua pertandingan ini menegaskan betapa krusialnya pekan-pekan akhir Serie A. Cremonese dan Pisa sama-sama terjebak di papan bawah, harus segera berbenah agar tidak terjerumus lebih dalam ke zona degradasi.

Sementara Bologna dan Torino memanfaatkan momentum untuk memperbaiki posisi, menunjukkan efektivitas dalam memanfaatkan peluang yang terbatas. (S_267)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...