Langsung ke konten utama

Madura United Tumbang Lawan Borneo FC

MENJUAL HARAPAN - Pertandingan pekan ke-26 BRI Super League 2025/2026 di Stadion Gelora Madura, Ratu Pamelingan, Pemekasan, langsung diwarnai kejutan. Borneo FC berhasil mencetak gol cepat pada menit ke-2 melalui Koldo Obieta. Gol ini membuat Madura United tertekan sejak awal dan harus berjuang keras untuk mengimbangi permainan tim tamu.

Madura United mencoba membangun serangan melalui kombinasi lini tengah. Namun, koordinasi yang kurang solid membuat mereka kesulitan menembus pertahanan Borneo FC. Dukungan suporter tuan rumah sempat membangkitkan semangat, tetapi peluang yang tercipta tidak cukup tajam untuk mengubah kedudukan.

Momentum sempat berpihak pada Madura United ketika Christophe melakukan gol bunuh diri pada menit ke-42. Bola yang salah antisipasi justru masuk ke gawang Borneo FC, membuat skor menjadi 1-1. Gol ini memberi harapan bagi Madura United untuk bangkit sebelum turun minum.

Baca juga: Persib Bandung Tumbangkan Semen Padang di Stadion Haji Agus Salim

Memasuki babak kedua, Borneo FC tampil lebih agresif. Koldo Obieta kembali mencatatkan namanya di papan skor pada menit ke-61, memanfaatkan kelengahan pertahanan Madura United. Gol keduanya semakin menegaskan dominasi tim tamu di lapangan.

Setelah tertinggal, Madura United mencoba menekan, namun justru kehilangan fokus. Serangan yang dibangun tidak terorganisir dengan baik, sementara lini belakang mereka beberapa kali terlihat rapuh menghadapi serangan balik cepat Borneo FC.

Drama berlanjut hingga menit akhir. Pada masa injury time, tepatnya menit ke-90+5, Mariaho Peralta menutup kemenangan Borneo FC dengan tendangan keras yang tak mampu dihalau kiper Madura United. Gol ini memastikan kemenangan telak 3-1 bagi tim tamu.

Baca juga: Bhayangkara FC Tumbangkan Persija Jakarta

Hasil ini membuat Madura United semakin terpuruk di posisi ke-16 klasemen sementara dengan hanya mengoleksi 20 poin. Situasi ini menempatkan mereka dalam ancaman serius zona degradasi. Sebaliknya, Borneo FC semakin kokoh di papan atas dengan 57 poin, menempel ketat pemuncak klasemen.

Pertandingan ini menunjukkan perbedaan kualitas dan konsistensi antara kedua tim. Borneo FC tampil disiplin dan efektif dalam memanfaatkan peluang, sementara Madura United masih bermasalah dalam koordinasi dan penyelesaian akhir. Kekalahan ini menjadi alarm keras bagi Madura United untuk segera berbenah jika ingin bertahan di kompetisi musim ini. (S_267)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...