Langsung ke konten utama

Persib Bandung Tumbangkan Semen Padang di Stadion Haji Agus Salim

MENJUAL HARAPAN - Semen Padang gagal raih kemenangan pada laga pekan ke-26 BRI Super League saat menjamu Persib Bandung di Stadion Haji Agus Salim, Padang, Minggu (5/4/2026).

Persib Bandung, kembali memperlihatkan kekokohannya sebagai tim yang memiliki mental juara, dan lawan Semen Padang berhasil memperoleh kemenangan dengan skor gol 2-0.

Mamang, babak pertama laga antara Semen Padang dan Persib Bandung di Stadion Haji Agus Salim berlangsung dengan intensitas tinggi sejak menit awal. Tuan rumah tampil menekan, mencoba mendominasi jalannya pertandingan dengan serangan cepat yang langsung menguji pertahanan Persib. Atmosfer pertandingan terasa panas, dengan kedua tim berusaha menciptakan peluang berbahaya.

Semen Padang sempat memiliki kesempatan emas melalui Diego Mauricio pada menit ke-11. Sundulannya nyaris membuka keunggulan, namun bola masih melenceng tipis dari gawang. Tak lama berselang, Guillermo juga mengancam lewat sundulan, tetapi Teja Paku Alam tampil sigap menjaga gawang Persib tetap aman. Tekanan beruntun ini menunjukkan agresivitas tuan rumah di awal laga.

Baca juga: Bhayangkara FC Tumbangkan Persija Jakarta

Persib Bandung, perlahan keluar dari tekanan setelah menit ke-17. Beckham Putra Nugraha mencoba peruntungan lewat tembakan jarak jauh, meski masih mudah diamankan kiper Semen Padang. Julio Cesar kemudian mendapat peluang melalui sundulan hasil sepak pojok Thom Haye, tetapi bola melambung di atas mistar. Upaya Persib mulai terlihat lebih terstruktur untuk membalas dominasi lawan.

Semen Padang tidak tinggal diam. Maicon Souza melepaskan tendangan keras pada menit ke-29 yang hampir saja merobek jala Persib, namun bola hanya melebar tipis. Pertarungan sengit di lini tengah membuat kedua tim saling bergantian menciptakan peluang, memperlihatkan kualitas permainan yang seimbang.

Kebuntuan akhirnya pecah pada menit ke-31. Ramon Tanque berhasil mencatatkan namanya di papan skor lewat sontekan memanfaatkan umpan silang matang dari Berguinho. Gol ini menjadi pembeda di babak pertama, membawa Persib unggul 1-0. Hingga peluit turun minum, skor tetap bertahan, menegaskan keunggulan sementara tim tamu atas Semen Padang.

Memasuki babak kedua, Semen Padang berusaha bangkit dengan intensitas serangan yang lebih tinggi. Diego Mauricio kembali menjadi tumpuan lini depan tuan rumah, beberapa kali mencoba menembus pertahanan Persib. Namun, koordinasi lini belakang Maung Bandung mampu meredam ancaman tersebut. Tempo permainan tetap terjaga cepat, membuat duel semakin sengit.

Persib tidak hanya bertahan, mereka juga melancarkan serangan balik berbahaya. Berguinho dan Beckham Putra Nugraha tampil menonjol dengan kombinasi umpan-umpan cepat yang membuka ruang di lini tengah. Ramon Tanque nyaris menambah gol pada menit ke-55 setelah menerima umpan terobosan, tetapi tendangannya masih bisa ditepis kiper Semen Padang. Momentum ini membuat Persib semakin percaya diri.

Semen Padang mencoba mengubah strategi dengan memasukkan pemain tambahan di lini serang. Maicon Souza kembali melepaskan tembakan keras dari luar kotak penalti pada menit ke-68, namun Teja Paku Alam tampil gemilang dengan penyelamatan krusial. Dukungan suporter tuan rumah membuat Semen Padang terus menekan, tetapi efektivitas penyelesaian akhir menjadi kendala utama mereka.

Kendati dukungan suporter tuan rumah begitu antusias mendukung tim Semen Padang, akan tetapi Persib Bandung justru mematahkannya, bahkan pada menit ke-70 Ramon Tangue kembali menggetarkan gawang kiper Semen padang.

Persib Bandung kembali tambah gol menjadi 2-0 Semen Padang ini hingga peluit panjang dibunyikan, keadaan skor tidak berubah. Persib Bandung raih tiga poin di pekan ini, dan mengoleksi 61 poin berada di puncak klasemen, sementara Semen Padang berada di arena zona degradasi dengan mengumpulkan 20 poin. (S_267)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...