Langsung ke konten utama

Liga Prancis Pekan ke-27: PSG Sukses Tumbangkan Toulouse

 

MENJUAL HARAPAN - Liga Prancis pekan ke-27 menyuguhkan duel antara Paris Saint-Germain (PSG) versus Toulouse yang berlangsung digelar di Parc des Princes, Sabtu dini hawi WIB (4/4/2026).

PSG menunjukkan antusiasme mengalahkan lawannya sejak kick off babak pertama dengan langsung menekan pertahanan Toulouse, dan baru membuahkan gol ke gawang kiper Toulouse pada menit ke-23.

Gol pembuka PSG dicetak oleh Ousmane Dembele, akan tetapi Toulouse tampak tidak gentar, langusng menekan pertahanan PSG, dan Rasmus Nicolasen di menit ke-27 berhasil menggetarkan gawang kiper PSG.

Kedudukan sama 1-1, duel kedua tim ini makin tinggi tensi dan intensitas tekanan dari maisng-masing pemainnya.

Baca juga: Dewa United Petik Kemenangan Lawan PSIM Yogyakarta

PSG terus menekan pertahanan Toulouse, dan di menit ke-33, Ousmane Dembele kembali mencetak gol. Sehingga tuan rumah unggul 2-1 dari Toulouse ini hingga pertandingan turun minum.

Usai jeda, PSG yang sudah unggul, tampak makin percaya diri memenangkan pertandingan ini dengan aksi-aksi serangan yang terus diperagakan. Akan tetapi para pemain Toulouse juga tidak kalah merepotkannya para pemain PSG.

Babak kedua terus saling jual beli serangan, akan tetapi masih juga belum ada gol yang tercicpta.

Seiring jalan waktu pertandingan mendekati akhir waktu normal, kedudukan belum kembali berubah, akan tetapi pada tamabahan waktu, PSG di menit ke-90+2 berhasil nambah golnya.

Gol ketiga tuan rumah- PSG dicetak oleh Goncalo Ramos, dan bertandingan ini dimenangkan PSG dengan skor gol akhir 3-1.

Tiga poin PSG meriahnya, dan posisi pimpin klasemen dengan mengoleksi 63 poin, sementara Toulouse berada di urutan ke-9 dengan mengoleksi 37 poin pada klasemen sementara Liga Prancis pekan kedua puluh tujuh. (S_267) 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...