Langsung ke konten utama

Dewa United Petik Kemenangan Lawan PSIM Yogyakarta

MENJUAL HARAPAN - Laga BRI Super League 2025-2026, kembali menyuguhkan pertandingan di pekan ke-26 usai jeda dalam beberapa pekan.

Ini kali pertandingan dimana yang jadi tuan rumah adalah Dewa United dan menjamu PSIM Yogyakarta.

Pertandingan Dewa United versus PSIM Yogyakarta diselenggarakan langsung di Banten International Stadium, Serang, Jumat malam WIB (3/4/2026).

Baca juga: Berskor Gol Imbang Laga Arema FC Vs Malut United

Tim tamu PSIM Yogyakarta, langsung menekan pertahanan tuam rumah Dewa United, dan nyaris saja gawang Dewa United kebobolan.

Serangan bertubi-tubi terus datang dari pemain PSIM, namun usahanya gagal membuahkan gol. Begitu juga tim tuan rumah, melakukan serangan balik dan mengancam gawang kiper PSIM.

Babak pertama yang penuh determinasi ini, akan tetapi hingga turun minum belum terjadi gol.

Babak kedua dimulai, kedua kesebelasan berusaha saling menekan kembali dan acapkali terjadi ancaman ke pertahanan lawannya masing-masing.

Dewa United kemudian terus meningkatkan volume serangannya ke pertahanan PSIM Yogyakarta, dan di menit ke-62, tekanan serangan Dewa United membuahkan hadiah penalti.

Tendangan penalti dipercayakan kepada Alex Martins Ferreira, dan berhasil mengecoh penjaga gawang PSIM.

Dewa United unggul 1-0, dan permainan makin tenggi tensinya, utamanya PSIM Yogyakarta yang berusaha menyamakan kedudukan.

Upaya serangan PSIM Yogyakarta membalas kebobolannya, tidak berhasil hingga pertandingan berakhir.

Dewa United pekan ini berhasil raih tiga poin, dan miliki 37 poin dan berada di urutan ke-9, sementara PSIM Yogyakarta berada di atasnnya urutan ke-8 dengan mengoleksi 38 poin klasemen sementara BRI Super League 2025-2026. (S_267)   



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...