Langsung ke konten utama

Berskor Gol Imbang Laga Arema FC Vs Malut United

 

MENJUAL HARAPAN - BRI Super League 2025-2026, kembali bergulir usai jeda dua pekan lebih, dan Arema FC memulainya yang berhadapan dengan Malut United.

Tuan rumah Arema FC menjamu Malut United di pekan ke-26 ini berlangsung digelar di Stadion Kanjruhan, Malang, Jumat sore (3/4/2026).

Debut kedua tim ini, sejak babak pertama dimulai langsung saling memberi ancaman ke pertahanan lawannya.

Arema FC dengan taktik serangan yang dibangunnya, akhirnya pada menit ke-26 berhasil membobol gawang kiper Malut United. Dan gol keunggulan sementara tuan rumah dicetak oleh Hansamu Yama.

Namun, usai tertinggal Malut United makin meningkatkan akselerasi serangannya ke pertahanan Arema FC, kendati maish belum berhasil menciptakan gol.

Memang, tidak tersangkal kedua tim ini berusaha untuk mencuri kemenangan di pekan ini, dan serangan demi serangan terus dilancarkan oleh kedua kesebelasan.

Malut United, terus menekan pertahanan tuan rumah, dan di menit ke-42 tuan rumah terkena hukuman penalti akibat pemainnya melakukan pelanggaran.

Malut United yang dapat hadiah penalti, dioptimalkan untuk menyamakan gol, dan eksekutor penalti dipercayakan kepada David da Silva.

David da Silva berhasil mengecoh penjaga gawang Arema FC, kedudukan pun menjadi sama 1-1.

Keududukan sama ini, tidak alami perubahan hingga turun minum, dan lanjut pada babak kedua, kedua kesebelasan kendati saling menekan dan mengancam pertahanan, akan tetapi hingga pertandingan ini berakhir tidak terjadi perubahan lagi.

Hasil pertandingan pekan ke-26 antara Arema FC versus Malut United ini berbagi poin. Dan Arema FC kini berada di posisi ke-11 dengan mengumpulkan 32 poin, sedangkan Malut United berada di urutan ke-4 dengan mengumpulkan 46 poin klasemen sementara BRI Super League. (S_267)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...