Langsung ke konten utama

Skor Gol Imbang PSM Makasar Vs Persis Solo

 

MENJUAL HARAPAN PSM Makasar dipaksa imbang 1-1 lawan Persis Solo pada pekan ke-26 BRI Super League 2025-2026.

PSM Makasar yang unggul lebih dahulu mencetak gol dari tendangan sudut yang indah, dan diteruskan oleh Yuran Fernandes pada menit ke-18 dengan sundulannya yang menggetarkan gawang kiper Persis.

Tuan rumah PSM Makasar terus berusaha menekan pertahanan Persis Solo, namun kedudukan 1-0 ini tidak alami perubahan lagi hingga turun minum.

Usai jeda, kedua tim kembali ke lapangan dengan ambisi yang tak terhindar yaitu memenangkan pertandingan, utamanya tuan rumah. Akan tetapi Persis Solo pun sudah barang tentu tidak mau kehilangan muka di pertandingan ini.

Baca juga: Skor Tunggal Persebaya Membawanya ke Lima Besar Usai Taklukkan Persita

Aksi jual beli serangan di babak kedua mewarnainya dengan saling mengancam pertahanan lawan.

Babak kedua berjalan seiring dengan saling menyerang, namun pada menit ke-65, Roman Paparyha kendati terus diganggu pemain belakang PSM Makasar, akhirnya berhasil mencetak gol.

Kedudukan menjadi sama 1-1, volume serangan makin eksplosif diperagakan oleh kedua tim, kendati tidak membuahkan gol.

Waktu normal pertandingan makin tipis, sementara posisi gol masih sama, pemain-pemain tuan rumah juga berusaha memetik kemenangan, namun hadangan para pemain Persis Solo membawa serangan pemain PSM Makasar buntu.

Akhirnya, pertandingan juga tuntas dengan hasil imbang 1-1.

Hasil berbagi poin ini, PSM Makasar berada di posisi ke-13 dengan mengumpulkan 25 poin, dan Persis Solo berada di posisi ke-15 dengan mengumpulkan 21 poin pada klasemen sementara BRI Ssuper League 2025-2026. (S_267)






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...