Langsung ke konten utama

Malut United Tak Beri Ampun Persijap

MENJUAL HARAPAN - Ganasnya Malut United saat menjamu tim Persijap Jepara pada pekan ke-21 BRI Super League menggunduli Persijap Jepara dengan skor gol akhir 4-0.

Malut United menjamu Persijap berlangusng digelar di Stadion Gelora Kie Raha, Ternate pada Jumat malam WIB (13/2/2026).

Sejak kick-off babak pertama, tuan rumah langsung menekan pertahanan Persijap Jepara. Tekanan serangannya ke pertahanan lawan, baru menghasilkan gol pada menit ke-11 yang dicetak oleh Igor Inocencio.

Gol pembuka yang dicetak Igor pada menit ke-11 itu, membuat antusiasme para pemain tuan rumah, sehingga serangan demi serangan nyaris tiada henti diperagakan para pemain Malut United ke pertahanan Persijap.

Baca juga: Madura United Unggul Lebih Dulu, Persis Berhasil Menyamakannya

Buah serangan demi serangan pemain Malut United, kembali menggetarkan gawang kiper Persijap pada menit ke-23 . Gol kedua tuan rumah dicetak oleh Ciro Alves.

Tertinggal 0-2, Persijap Jepara berusahan memperkecil ketertinggalannya dengan aksi-aksi serangannya ke pertahanan Malut United, namun tidak berhasil membuahkan gol.

Sementara, para pemain tuan rumah Malut United, juga terus melakukan tekanan ke pertahanan Persijap, dan hingga pertandingan turun minum, tidak ada perubahan gol lagi.

Persijp Jepara usai jeda, tampak meningkatkan volume serangannya ke pertahanan Malut United. Akan tetapi usaha memperkecil ketertinggalan kebobolan masih belum berhasil.

Persijap, acapkali gagal serangannya ke pertahanan Malut United, dan tuan rumah ini dengan aksi-aksi menekan pertahanan Persijap, kembali gawang kipernya kebobolan pada menit ke-68. Gol ketiga tuan rumah dicetak oleh Tyronne del Pino.

Kemudian, sembilan menit berikutnya (77’), David da Silva menyumbangkan satu gol untuk timnya, sehingga Malut United sudah menggendol 4 gol pada pekan ini.

Baca juga: Persik Kediri Vs PSIM Yogyakarta , Berakhir 2-2

Empat gol keunggulan Malut United, tidak berubah hingga pertandingan berakhir.

Tiga poin digenggam Malut United di pekan ke-21 ini, membawanya kini berada di posisi papan atas urutan ke-4 dengan mengoleksi 40 poin.

Adapun Persijap Jepara, yang menderita kekalahan telak dari tuan rumah ini, posisinya makin sulit untuk keluar dari pintu gerbang degradasi. Persijap miliki 15 poin klasemen pekan ke-21 BRI Super League. (S_267)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...