Langsung ke konten utama

Perempat Final FIFA Club World Cup 2025: Palmeiras Dijegal Chelsea




MENJUAL HARAPAN - Laga babak perempat final Piala Dunia Antarklub FIFA 2025 antara Palmeiras kontra Chelsea berlangsung digelar di Lincoln Financial Field, Sabtu pagi WIB (5/7/2025).

Duel kedua tim ini untuk merebut ke babak semifinal, sejak kickoff babak pertama langsung tancap gas. 

Chelsea, melalui cole Palmer pada menit ke-16 berhasil menggetarkan gawang kiper Palmeiras.

Gol pembuka Chelsea menjadi modal para pemainnya meningkatkan serangan demi serangan ke pertahanan Palmeiras, namun masih belum membuahkan hasil gol kembali.

Kedudukan sementara Palmeiras versus Chelsea 0-1 ini hingga pertandingan babak pertama berakhir.

Memasuki babak kedua, Palmeiras yang sudah tertinggal 0-1 tancap gas begitu peluit pertandingan babak kedua dimulai.

Gebrakan para pemain Palmeiras berhasil menggetarkan gawang kiper Chelsea pada menit ke-53.

Gol balasan Palmeiras dicetak oleh Estevao Willian, dan kedudukan menjadi sama 1-1.

Usai kedudukan sama, pemain Chelsea berusaha bangkit untuk memenangkan pertandingan perempat final ini, dan terus menekan pertahanan Palmeiras, walau masih belum membuahkan gol.

Begitu juga dengan para pemain Palmeiras terus melakukan aksi-aksi serangannya ke pertahanan Chelsea, dan belum juga menciptakan gol.

Waktu normal pertandingan makin menipis, akhirnya serangan demi serangan para pemain Chelsea membawa petakan Palmeiras melakukan gol bunuh diri pada menit ke-83, dan Chelsea nambah golnya menjadi 2-1.

Kedudukan gol untuk Chelsea 2-1 Palmeiras ini tidak berubah hingga wasit meniup peluit panjang berakirnya pertanidngan.

Chelsea berhasil melaju ke babak berikutnya semifinal Piala Dunia Antarklub FIFA 2025 ini. (*)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...