Langsung ke konten utama

Perempat Final FIFA Club World Cup 2025: PSG dan Madrid Melaju ke Babak Semifinal




MENJUAL HARAPAN - Pada babak perempat final Piala Dunia Antarklub FIFA 2025 PSG berhadapan dengan Bayern Muenchen, dan Real Madrid berhadapan dengan Dortmund.

Paris Saint-Germain (PSG) berhasil tumbangkan Bayern Muenchen dengan skor gol akhir 2-0.

Dua gol kemenangan PSG dicetak pada babak kedua menit ke-78 lewat kontribusi Desire Douce, dan menit ke-90+6 melalui tendangan Dusmane Dembele.

Pertandingan yang berlangusng di Mercedes-Benz-Stadium ini berlangsung pada Sabtu (5/7/2025).

Dengan kemenangan ini, PSG berhasil raih tiket babak semifinal Piala Dunia Antarklub FIFA ini.

Sementara pada hari ini, Minggu dini hari WIB (6/7/2025) Real Madrid versus Dortmund berlangsung digelar di Stadion MetLife.

Real Madrid begitu kockoff babak pertama langsung menggebrak pertahanan Dortmund dan membuahkan gol pada menit ke-10 lewat tendangan Gonzalo Garcia Torres.

Kemudian, sepuluh menit berikutnya, Madrid pun kembali nambah pundi golnya lewat tendangan Fran Garcia menit ke-20.

Kedudukan sementara, Madrid 2-0 Dortmund ini tidak terjadi perubahan hingga pertandingan babak pertama turun minum.

Babak kedua dimulai, Dortmund yang sudah tertinggal 0-2, berusaha bangkit dari ketertinggalannya.

Duel babab kedua ini jauh lebih menegangkan dibandingkan dengan babak pertama, dimana Dortmund terus menekan pertahanan Madrid hingga baru pada menit ke-90+2 berhaisl membobol gawang kiper Real Madrid.

Kedudukan berubah menjadi 2-1, Madrid begitu membawa bola ke tengah lapangan, langsung melakukan serangan yang massif sehingga pada menit ke-90+4 berhaisl menggetarkan gawang kiper Dortmun yang dicetak oleh Kyilan Mbappe.

Kedudukan kembali beurbah Madrid 3-1 Dortmund. Namun para pemain Dortmund tidak putus harapan, terus melakukan serangan ke pertahanan Dortmund yang berakibat pemain Madrid lakukan pelanggaran di titik kotak penalti yang berakibat kena hukuman pinalti.

Eksekusi penalti dipercayakan kepada Serhou Girassy dan berhasil dengan baik mengecoh penjaga gawang Madrid di menit ke-90+8.

Kedudukan kembali berubah menjadi 3-2, namun waktu jua yang mengakhiri pertandingan ini, dan dimenangkan oleh Madrid.

Madrid melaju ke babak semifinal usai taklukkan Dortmund. (*)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...