Langsung ke konten utama

Perempat Final FIFA Club World Cup 2025: Fluminense Tumbangkan Al-Hilal



MENJUAL HARAPAN - Babak perempat final Piala Dunia Antarklub FIFA antara Fluminense menghadapi Al-Hilal berlangsung digelar di Stadion Camping World, Sabtu dini hari WIB (5/7/2025).

Perebutan meraih babak semifinal antar kedua tim ini sungguh seru dan sengit saling jual beli serangan dengan terus menekan pertahanan lawannya.

Fluminense berhasil mebobol gawang kiper Al-Hilal pada menit ke-40 lewat tusukan Matheus Martinelli.

Fluminensi unggul sementara 1-0 Al-Hilal ini hingga babak pertama turun minum.

Usai rehat, kedua tim kembali ke lapangan dengan semangat memburu babak semifinal Piala Dunia Antarklub FIFA 2025 ini. 

Tampak, gebrakan di babak kedua para pemain Al-Hilal berhasil membuahkan gol pada menit ke-51 lewat tendangan Marco Leonardo.

Kedudukan menjadi sama 1-1 ini, volume pertandingan pun makin sengit dan ketat.

Kedua kesebelasan berusaha menekan pertahanan lawannya, dan saling memberi ancaman ke pertahanan masing-masing.

Fluminense, kembali berhaisl mencetak gol pada menit ke-70 lewat tendangan Hercules, dan unggul sementara 2-1.

Tertinggal 1-2, Al-Hilal berusaha bangkit kembali untuk menyamakan gol, namun hadangan demi hadangan para pemain Fluminense, membawa kegagalam serangan para pemain Al-Hilal.

Al-Hilal, tidak berhasil menyamakan kedudukan, dan hingga pertandingan ini berakhir, kedudukan tidak alami perubahan lagi.

Fluminense berhasil melaju ke babak semifinal FIFA club world Cup 2025.(*)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...