Langsung ke konten utama

Kejutan Warnai Putaran Kedua Piala Dunia Antarklub, Flemango Pesta Gol, Bayern Petik Kemenangan




MENJUAL HARAPAN - Putaran kedua Piala Dunua Antarklub makin sengit dan seru saja di masing-masing grup.

Pada Grup C putaran kedua, Bayern berhasil taklukkan Boca Junior dengan skor gol 2:1. 

Dua gol Bayern dicetak menit ke 18 oleh Harry Kane, dan menit ke-84 oleh Michale Olise, sedangan satu gol Boca Junior dicetak menit ke-66 lewat tendangan Miguel Merentel.

Masih di grup C, Benfica versus Auckland City, berakhir dengan skor gol 6-0.

Enam gol kemenangan Benfica berturut-turut dicetak oleh pemainnya, yaitu Angel Di Maria pada menit ke-45+8 dan menit ke-90+8 lewat tendangan penalti, Vangelis Pavidis menit ke-53, Renato Sanches menit ke-63 dan Leandro Barteiro menit ke-76 dan 78.

Pada Grup D, Flamengo berhadapan dengan Chelsea, dan flamengo berhasil menang dengan skor gol 2-1.

Gol-gol flamengo dicetak menit ke 62, dan menit ke-83 oleh Bruno Henrique Pinto, dan Danilo, sedangan Gol Chelsea dicetak di menit ke-13 lewat tendangan Pedro Neto.

Adapun Grup D lainnya, LAFC derita kekalahan dari Es Tunis dengan skor gol 0-1. 

Gol semata wayang bagi kemenangan Es Tunis di cetak di menit ke-70 lewat tendangan Younce Belaili.

Inilah klasemen Grup C dan D putaran kedua FIFA Club World Cup 2025.

Grup C

1. Bayern : 6 poin

2. Benfica : 4 poin

3. Boca Juniors : 1 poin

4. Auckland City : 0 poin

Grup D

1. Flamengo : 6 poin

2. Chelsea : 3 poin

3. Es Tunis : 3 poin

4. LAFC      : 0 points

(Sjs-267)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...